#UmairNidaNikah 5: Allah Ganti dengan yang Lebih Baik

4:42 AM

     Beberapa hari saja di rumah Bu Pur, saya sudah merasa betah. Pembawaan beliau yang suka bercanda membuat saya gampang mencair dengan suasana seisi rumah. Ketiga anak laki-lakinya juga sudah berhasil saya taklukan dengan resep yaki-soba spesial yang saya dapat dari Ibuk di Beppu. Mereka yang tidak biasa menyantap masakan selain hasil tangan Bu Pur ternyata luluh juga dengan rahasia andalan Ibuk yang selalu menambahkan butter ke beberapa olahan masakan, salah satunya yaki-soba andalan.
     Suami Bu Pur, Salman Sugimoto-san, juga sedang dalam persiapan menuju sebuah karantina di Mumbai, India. Salman-san itu penulis buku untuk kumpulan ceramah dr. Zakir Naik yang ia terjemahkan sendiri ke bahasa Jepang, lho. Bukunya sudah punya banyak pembaca dan sudah bisa dibeli di amazon.co.jp. Di Mumbai nanti, Salman-san akan mengikuti sebuah program pelatihan da'i langsung di bawah bimbingan dr. Zakir Naik. Rencananya, Salman-san akan berangkat tanggal 14 Januari. Dalam salah satu persiapan menuju keberangkatannya, ia diwajibkan menghafal puluhan ayat Qur'an pada surat yang berbeda-beda, lengkap dengan arti bahasa Inggrisnya pula. Jadilah saya di rumah ini menjadi semacam mentor dadakan juga untuknya. Sedikitnya satu-dua trik menghafal yang saya pakai di masa karantina hafalan Qur'an di Bali waktu itu, saya bagikan kepada Salman-san. Seperti halnya membagi satu ayat ke dalam beberapa 'kavling', teknik anchoring ayat dengan menghafal kata kunci ayat, dll. Salman-san juga banyak memberi saya pencerahan terkait sains dan kandungan Qur'an. Ia juga punya passion yang kuat dalam dunia pendidikan Islam di Jepang, membuat saya belajar banyak tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam perkembangan Islam di negeri ini sekarang.
     Seminggu saja di rumah ini, saya merasa seperti 'ditarbiyah' habis-habisan. Melihat keluarga bahagia Bu Pur yang harmonis, membuat saya mupeng dan sedikit iri, haha. Apalagi kalau Bu Pur dan Salman-san sedang lempar-lemparan bahan candaan. Padahal Bu Pur berumur enam tahun lebih tua jaraknya dengan Salman-san. Bu Pur juga anak pertama di keluarganya dan sangat wajar kalau beliau cenderung punya rasa dominan yang besar. Tapi hebatnya, beliau bisa menciptakan prinsip "Sami'na wa atho'na" sebegitu kuat di hadapan suaminya. Hm... Salah satu pelajaran kerumahtanggaan berharga yang saya dapat dari mereka berdua. Bu Pur banyak sekali bercerita tentang pengalaman hidupnya, hikmah kedekatannya dengan Qur'an sampai membawanya bisa hidup di Jepang, dan kisah romansanya bertemu dengan Salman-san yang sudah jadi mualaf jauh sebelum bertemu dengan Bu Pur kala itu. Kalau begini saya merasa seperti ada dalam karantina pra-nikah dalam jangka waktu semingguan, hehehe.
     Tadinya, dalam beberapa hari kemarin, saya berencana untuk safari masjid ke semua masjid dan mushalla kecil yang belum pernah saya kunjungi di sekitar Tokyo dan Chiba seperti Masjid Okachimachi (Masjid Assalaam), Masjid Hachioji (Masjid Attauheed), Masjid Ohanachaya (Masjid Makki), Mushalla SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo), Mushalla Shinokubo, dll. Tapi ternyata hanya sebagiannya saja yang bisa saya datangi, itu pun karena kebetulan saya punya janji makan siang dengan seseorang di dekat salah satu dari masjid-masjid tersebut. Hari-hari saya di rumah Bu Pur sepertinya memang cukup nyaman, sampai-sampai hanya dengan bercanda saja dengan Sholeh, Musa, dan Taqwa di rumah, sudah bisa membuat saya lupa untuk jalan-jalan keluar dan lupa kalau saya kehilangan dompet sudah lumayan lama. Saya hanya tinggal ikut Bu Pur kemana-mana, berbelanja, masak, makan, mengajar ngaji anak-anak kecil di Masjid Hira, ke acara pengajian di rumah temannya, dll. Tidak terasa hari ini sudah hari Rabu tanggal 6 Januari. Besok Bu Pur akan mulai bekerja lagi ke kantor dan beliau mengajak saya untuk ikut pergi juga kesana naik kereta. Berarti besok akan jadi kali kedua bagi saya mendatangi Tokyo Arabic Institute, tempat perlombaan Qur'an dimana saya bertemu Bu Pur pertama kalinya.

Kegiatan belajar mengaji untuk anak-anak di Masjid Hira. Malam itu saya sekalian sweeping lagi tiap jengkal ruangan ini untuk mencari dompet saya yang hilang tempo hari. Sayangnya dompet saya tidak juga ketemu. Hiks.
PS: orang ini bukan Umair-san, ya. Beliau ini mahasiswa S3 asal Syiria yang jadi pengajar ngaji di Masjid Hira.
***
7 Januari 2016, Tokyo Arabic Institute, Minato-ku, Tokyo

     Pekerjaan Bu Pur di Ma'had ―begitulah orang seisi kantor biasa menyebut institut bahasa Arab ini, cukup terbilang sederhana. Beliau adalah penanggung jawab lantai 2 yang memastikan kegiatan belajar-mengajar di lantai tersebut berjalan dengan lancar. Beliau itu semacam sepaket penanggung jawab keamanan, kebersihan, dan seksi penggembira lantai 2. Seringnya juga, Bu Pur membantu Abu Zakaria di dapur: chef di Ma'had yang asli orang Maroko. Saya juga dikenalkan kepada teman-teman kerja Bu Pur yang lain, ada Ustadzah Samiyah asal Sudan, Ustadzah Ni'mah asal Mesir, Mubarak-san asal Jibuti, Sodiq-san asal Sudan, Saw-san yang mualaf Jepang, dll. Ngomong-ngomong, di Ma'had ini Bu Pur tidak dipanggil dengan sebutan namanya, melainkan dengan panggilan "Ummu Sholeh" yang dinisbatkan kepada anak pertama beliau seperti nama Abu Zakaria yang berarti "Ayahnya Si Zakaria".
     Yang menarik ialah si Mubarak-san ini. Ketika Bu Pur bercerita kepadanya kalau saya kehilangan dompet beberapa hari lalu, spontan ia bilang kepada kami bahwa ia akan memberi saya 20.000 yen cuma-cuma. Allahu akbar... Kebaikan apa lagi yang Allah limpahkan kepada saya sekarang? Padahal jumlah uang yang ada di dompet saya yang hilang hanya sekitar 15.000-an saja totalnya. Mubarak-san bahkan mengundang saya dan Bu Pur untuk lunch bersama pada jam istirahat kantor besok siang, di sebuah restoran masakan China halal yang letaknya tidak jauh dari Ma'had. Mubarak-san yang akan membayar makan siang kami, katanya. God, do I really deserve all these things?
     Berawal dari kehilangan dompet, berturut-turut Allah beri saya nikmat dari jalan yang tidak disangka-sangka. Allah gantikan kehilangan ini dengan nikmat yang jauh lebih baik. Yang saya maksud dengan jauh lebih baik, bukan berarti terletak pada selisih 5000 yen antara uang saya yang hilang dengan uang yang diberikan Mubarak-san kepada saya secara cuma-cuma. Tapi lebih kepada soal kasih sayang Allah yang disalurkan-Nya lewat tangan orang-orang beriman di sekitar saya sekarang. Belum lagi semingguan saja bergaul dengan Bu Pur, sudah memberikan saya banyak sekali ilmu agar semakin besar kecintaan saya kepada Tuhan yang punya semesta tempat kaki saya berjalan.
     Jika dibilang semua ini adalah hadiah karena buah dari keikhlasan atau buah dari keberpasrahan total kepada Tuhan, saya malah lebih senang menganggap ini semua sebagai peringatan agar saya bisa benar-benar bersyukur telah lahir dari orangtua seperti Ayah dan Mamah. Tanpa petuah dan pengajaran Ayah tentang konsepsi rezeki, mana bisa saya menjalani hari-hari di Chiba sesantai dan se-enjoy ini meski dalam keadaan tidak punya uang sama sekali. Dimulai dari hari ini, saya jadi benar-benar mempertanyakan, amalan apa sebetulnya yang Ayah dan Mamah sering jalani, sampai-sampai kok bisa anaknya seberuntung ini? Doa dengan teks dan redaksi yang bagaimanakah mereka berdoa untuk anak-anaknya agar dimana pun saya dan adik-adik saya berjalan di bumi-Nya, kami tidak kelaparan?

     "Nida, saya tuh baik ke kamu bukan karena kamunya. Tapi, karena saya yakin orangtua kamu adalah orang-orang yang sholeh..."

     Perkataan Bu Pur kali ini benar-benar sukses membuat saya terharu. Saya jadi kangen sekali dengan Ayah dan Mamah. Ah, ini sudah tahun ke-9 saya tidak tinggal di rumah. Sedih sekali rasanya bahwa sampai sekarang pun, belum ada balas jasa dari saya untuk mereka, orang yang paling saya muliakan di serayaan dunia. Semoga Allah mengizinkan saya menjadi seorang Hafidzah, agar kelak di akhirat dapat saya hadiahkan Ayah dan Mamah dengan mahkota kemulian terindah.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *

recent posts

Subscribe