Tentang Ridho Orangtua

7:08 PM


     Semakin mendewasa, saya semakin tahu bahwa selain murka Tuhan, ada lagi satu jenis ketakutan yang paling benar-benar membuat saya tidak berani. Ialah membiarkan diri saya hidup dan berjalan di bumi-Nya tanpa dinaungi oleh ridho dari kedua orangtua saya. Pelajaran demi pelajaran di hari-hari kemarin semakin menyadarkan saya bahwa seucap kata "iya" dari Ayah dan Mamah adalah kunci paling magis untuk kelancaran saya menjalani hari-hari di tanah rantau sini, atau pun ketika saya pergi traveling sendirian berpindah dari satu kota ke kota lain di Indonesia.
     Walaupun seringkali permintaan izin kepada mereka berdua akan berujung pada, "Terserah Neng aja bagusnya yang mana, kan Ayah sama Mamah nggak tau situasinya kayak apa," tapi tetap saja, bagi saya, membiarkan mereka tahu apa yang saya lakukan adalah bentuk permintaan ridho secara informal. Kalau dipikir-pikir, tidak ada satu pun permohonan saya kepada mereka yang mereka tidak iyakan kecuali satu hal: menikah. Dari ikut program itu dan program ini, perjalanan ke pulau sana dan ke pulau sini, tentang berteman dan bergaul dengan siapa pun, mereka bebaskan saya maunya seperti apa. Tapi kebebasan macam ini tidak lantas membuat saya dan adik-adik saya berani membelokkan kaki kami ke 'arah kiri'. Lagi-lagi, sepertinya perkara ini berkaitan juga dengan kebiasaan orangtua kami. Saya percaya bahwa justeru karena kekuatan amalan harian dan doa mereka berdua lah yang 'memenjarakan' langkah kami agar selalu berjalan di jalur yang masih searah kepada Ilahi, dimana pun kami berada sekarang ini.
     Tentang izin menikah. Bahwasanya pernah ada yang berniat memperisteri saya, namun sayangnya izin menikah pada saat itu belum bisa diberikan oleh kedua orangtua saya. Saya bertemu dengan orang tersebut dalam program karantina menghafal Qur'an di Bali, di masa saya ambil cuti kuliah untuk Fall Semester 2014 kemarin. Menurut Ayah dan Mamah, mereka bukan tidak setuju kepada orangnya, tapi lebih kepada waktunya. Saya masih harus lanjut kuliah di Jepang tahun kedua. Sementara orang tersebut sedang menunggu pengumuman beasiswa master ke lain negara di timur tengah sana. Menurut mereka, mana bisa kami berumah tangga dalam beda jarak yang terlampau jauh sampai beda negara beda juga kehidupannya. Pun si pihak pria masih gusar untuk ikut bersama saya ke Jepang sebagai opsi kedua. Akhirnya proses taaruf ini pun diselesaikan karena toh sudah jelas keputusan dari orangtua saya bagaimana.
     Sebetulnya ada kekecewaan pada saya. Mengingat bahwa orang tersebut adalah seorang Hafidz tiga puluh juz, yakni salah satu kriteria yang saya idamkan untuk ada pada pendamping saya kelak. Waktu itu saya berpikir instan sekali, kalau untuk mendapatkan sebuah ajakan menikah dari orang yang seperti itu saja saya harus cuti dulu satu semester dari perkuliahan, kemudian menjual i-Phone saya untuk biaya karantina menghafal Qur'an, lalu melingkungkan dulu diri saya di tengah para penghafal kalam-Nya, dimana lagi saya punya kesempatan untuk mendapati orang seperti itu? Sementara sesegera mungkin saya harus kembali ke Jepang dan memulai kuliah lagi.
     Dari pengalaman inilah, saya belajar sangat banyak sekali hikmah. Tentang keberharapan kepada Allah bukan kepada manusia. Tentang keikhlasan dan penerimaan. Dan kebanyakannya ialah tentang ilmu pernikahan. Bahwa, ada beda antara tergesa-gesa dan menyegerakan. Tergesa-gesa itu datangnya dari keinginan, sementara penyegeraan datang dari kebutuhan. Padahal, kalau kata Aa Gym, sejatinya Allah lah yang paling tahu apa kebutuhan diri kita melebihi pemahaman kita terhadap kebutuhan diri kita sendiri. Mungkin pada dasarnya, Allah menganggap saya belum butuh menikah. Hanya sebatas keinginan atau bahkan bisa jadi hanya godaan yang kemudian hari bisa dijadikan pelajaran untuk proses persiapan di masa depan.
     Kemudian, saya juga mengevaluasi apa sebetulnya kesalahan saya di proses taaruf kemarin. Saya coba lagi bertanya ke diri saya sendiri, apakah saat berproses dengan orang tersebut saya semakin dekat dengan Allah atau tidak, apakah komunikasi saya dengannya banyak dibumbui percakapan tidak penting yang dapat memunculkan 'virus merah jambu' di antara kami berdua atau tidak, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya. Hingga akhirnya, saya disadarkan bahwa kesalahan terbesar saya kemarin terletak pada keberharapan besar saya kepada selain Allah.
     Ketika berproses dengan orang tersebut, doa-doa saya penuh dengan namanya. Seolah-olah memaksakan bilang kepada Tuhan bahwa keinginan saya itu yang terbaik. Padahal itu hanya menurut saya, bukan menurut Pencipta saya. Padahal sebelum berproses dengannya, sesuka apa pun saya terhadap seorang pria, tidak pernah saya berdoa untuk bisa dijodohkan dengan pria tersebut, karena saya selalu ingat pesan Ustad Salim A. Fillah dalam ceramahnya pada saat beliau melakukan kunjungan dakwah ke Masjid Beppu. Kata beliau, "Janganlah kita menyedikitkan rezeki kita dengan berdoa supaya si A berjodoh dengan kita. Karena bisa jadi jodoh yang sebenarnya tertulis untuk kita di Lauh Mahfudz itu kualitasnya melebihi si A yang kita doakan selalu." Sementara yang saya lakukan selama proses taaruf waktu itu seperti berpura-pura buta akan ketetapan Allah bahwa urusan jodoh jelas-jelas ada pada kekuasaan-Nya semata. Dengan berambisi kepada satu orang, sebetulnya secara tidak sadar saya menyedikitan rezeki saya, karena saya hanya menganggap orang itulah yang paling baik buat saya. Dengan mengatakan "Dapet yang kayak gitu dimana lagi, ya?" sebetulnya saya sedang abai bahwa Allah lebih tahu tentang kapan, siapa, dan bagaimana saya akan dipertemukan dengan jodoh saya.
     Selain meninggalkan pelajaran berharga tentang ilmu keikhlasan dan ilmu pernikahan, pembelajaran paling penting yang saya dapat dari proses taaruf sebelumnya adalah tentang pentingnya ridho orangtua. Beberapa lama dari berakhirnya proses saya dengan orang tersebut, saya mendapat sebuah hikmah yang sangat besar hingga pada akhirnya saya sadar bahwa tidak jadinya saya menikah dengannya pada saat itu adalah jalan paling baik yang Allah pilihkan untuk saya. Hikmah ini pula lah yang mempermudah saya mengikhlaskan. Dan terlebih, melupakan sosok yang sempat membuat saya sedikit berkecenderungan terhadapnya. Dari hikmah inilah, saya belajar bahwa ridho Ayah dan Mamah itu memang sebuah nasihat sekaligus khasiat, dimana "iya"-nya selalu berbuah keberkahan sementara "tidak"-nya adalah sebuah penyelamatan.
     Ridho orangtua adalah pintu masuk ke dalam segala kesempatan.
     Ridho orangtua adalah pembuka segala jalan.
     Ridho orangtua adalah juga tujuan.
     Tujuan yang mengantarkan kita pada keridhoan Tuhan.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *

recent posts

Subscribe