#BasedOnTrueStory: Amora Megalova

1:11 AM

Sebuah cerpen yang dibuat beberapa tahun silam saat masih duduk di bangku sekolah MAN Insan Cendekia. Tentang bagaimana remaja enam belasan mengenal cinta. Tentang belajar bagaimana mengelola hati yang penuh dengan berbagai rasa. Sekaligus pesan bagi adik-adik disana, bahwasanya apa yang bergejolak dalam hati kalian saat ini sejatinya adalah fana. Karena bertahun-tahun kemudian kalian akan sadar bahwa dunia yang dipijak di tanah enam hektar Insan Cendekia hanyalah daun kelor yang lebarnya tak seberapa...
***
Malam yang mungkin terlalu sibuk di tempat orang. Mungkin, masih ada sekeluarga yang menunggu midnight sale di mal sambil makan malam di restoran ramen terkenal. Biasanya sekeluarga ini punya mata sipit-sipit. Biasanya sekeluarga ini ditemani bibi pembantu berseragam biru. Mungkin, masih ada sekelompok muda tanggung di jalanan, di jembatan, di tempat hiburan. Biasanya kelompokan ini punya komposisi pasang-pasangan. Biasanya kelompokan ini bawa sepeda motor per setiap pasang. Kadang-kadang, ada beberapa yang tak malu bergandengan, berpelukan, bercumbuan. Dan mungkin, masih ada kuli panggulan untuk keping-keping baja seberat ratusan hewan. Biasanya pak kuli ini punya isteri di rumah kelaparan. Biasanya pak kuli ini punya anak yang ketiduran gara-gara kecapaian menangis minta dibelikan mainan.
Malam yang tidak terlalu sibuk di tempat kami. Bergemerlapan cahaya lampu kota Tangerang Selatan tak sempat terbidik oleh mata kami yang  bertempat di pelosok jauh Serpong. Pun dengan rupa-rupa polah yang tadi disebut di awal. Cahaya malam disini, mengandalkan lampu-lampu neon yang dipasang di tiap gedung-gedung asrama dan gedung-gedung  fasilitas lain. Sementara untuk penerangan sekitaran kampus yang sudah sepi, membumbunglah  lampu  tinggi dan sebaran lampu berhias kaligrafi Asmaul Husna dengan nyala tak seberapa.
Malam yang tidak sibuk bagiku di gedung asarama putri khusus kelas dua belas  ini. Tidak ada tugas sekolah untuk jadwal pelajaran besok. Dan syukur saja, ulangan harian pun sama nihilnya. Bercakaplah aku dengan bala remaja putri dari satu kelas yang sama denganku. Mereka, seperti biasa, bicara soal apa, siapa, dan topik yang menjadikannya bahan cerita. Mereka, seperti biasa, bicara soal urusan yang sebenarnya bukan mereka yang punya. Mereka, seperti biasa, bicara soal yang itu-itu saja. Mereka berbicara tentang: Cinta.
Bermacam tuturan semakin banjir saja dengan timpalan-timpalan tanggapan atau rekaman yang dilihatnya waktu lampau dan mungkin siang tadi di sekolahan. Cerita si Boy yang  tertangkap tengah bercengkerama dengan Mannequin, anak kelas satu yang cantiknya tidak ada yang tidak tahu. Cerita si Kribo yang katanya semakin mesra dengan mantan rekan satu divisi OSIS sewaktu masih menjabat organisasi. Cerita si Jegrak yang katanya sudah jadian dari lama dengan gitaris perempuan dari satu band yang sama dengannya. Dan tentang cerita mereka sendiri dengan pangerannya yang satu angkatan, angkatan atas yang sudah mengalumni, dan bahkan adik kelas dibawah kami.
Rata-rata, semua berawal dari kekaguman yang menumpuk, menggunung, dan menggelembung tiada terkungkung. Dari situlah apa yang mereka sebut ‘cinta’ serasa kian memenuhi, menyesaki, dan mengangan-angani tiap-tiap derap hari. Klise memang. Tapi beberapa contoh lain, menunjukkan adanya alasan tentang cinta dan mencintai yang tak seragam. Menunjukkan adanya alasan tentang cinta dan mencintai yang bukan berawal dari kekaguman dan penyukaan.
Contohnya kisah si Kribo dan si Manis yang berperawakan mungil, pendek, dan berkulit putih. Roman-romannya, awal kedekatan mereka berasal dari pertengkaran yang terjadi antara keduanya. Dari situlah komunikasi yang tidak baik hingga menjadi baik pun terjalin. Dan, resmi menjadi suka sama suka. Terdengar picisan sekali bagiku. Tapi jelas terjadi di sekitarku. Jelas menambahi arsip cerita-ceritaku dan teman yang lain.
Ada lagi satu pasang muda-mudi angkatan kami yang kisahnya sangat sayang dilewatkan. Dari mulai tentang awal kedekatannya, status yang sebenarnya terjadi, orang ketiga yang menghiasi, berapa lama hubungannya terjalin, siapa duluan yang mengakui perasaan yang waktu itu tengah menggelayuti, hingga soal motif salah satunya memacari pujaan hati. Kabar beredar, suka, adalah alasan mereka saling sama mencintai di tiga bulan pertama kisahnya dimulai. Dan salah menilai di awal, adalah alasan yang menjadikannya kemudian hambar, hingga akhirnya kandas dan berbekas misteri penasaran teman-teman. Satu kisah ini agaknya menjadi bukti tentang alasan manusia mencintai, dan kemudian bisa berlanjut seperti masih mencintai, tetapi tanpa mengasihi sama sekali.
 Malam ini, segala rupa bahan omongan yang terpaut soal cinta, dituturkan luwes dan menggelinding saja bak roda berpelumas. Entah dari yang benar terjadi, gosip dari antah berantah, hingga dari yang hanya persepsi tanpa jelas bukti. Tidak ada satu diantaranya yang menggurui. Karena semua berkasta sama, berpengalaman hampir sama, dan berpengetahuan seminim yang lain dalam hal ini. Di dalam hal cinta-mencintai.
Malam semakin melarutkan bibir-bibir mereka untuk jauh membicarakan perihal cinta. Semakin malam, semakin seru saja obrolan yang menggaungi malam ini. Dengan masih dalam topik yang sama, kali ini, mereka bertukar fikiran tentang rasa sebenarnya mencintai. Saling berbagi tentang efek dari virus yang mereka namai sebagai “Virus Amora Megalova”. Sebuah nama cetusan karibku yang kiranya merepresentasikan kabut rasa yang menggema diantara banyak hati disni. Bahkan, salah satu dari mereka menjadikan sebuah baris lirik lagu, sebagai referensi definisi tentang rasanya jatuh cinta. Dan lirik itu berbunyi: “Dan kupu-kupu menari memenuhi isi perutku...”
Salah satu yang lain berani mengambil pendapat sendiri tentang rasanya jatuh cinta yang ia alami. 
“Jatuh cinta itu ya.... rasanya fly! Heroin, mungkin. Melayang, abis itu nagih!” Disusul dengan bergelak-gelak tawa anak-anak lain. Ternyata, tidak hanya satu. Yang lain ikut-ikutan tak mau tahu tentang respons apa yang akan muncul setelah mereka bersuara dan memilih mengobralkan definisi tentang rasa jatuh cinta yang dialami masing-masingnya.
“Pas jatuh cinta, gue ngerasa ada angin sayup-sayup masuk ke telinga gue dan..... Ah! Pokoknya rasanya gitu deh!”
“Pas jatuh cinta mah, aku berasa gugup, malu, kayak waktu tuh berhenti gitu aja depan muka aku.”
“Pas jatuh cinta, apalagi pas ngeliat dia, rasanya seneng banget! Tapi keburu rikuh gara-gara deg-degan dan takut ketauan.”
Dan, beragam definisi-definisi lain yang terjelma dari perasaan mereka sebagai fitrah Tuhan yang beruntung sekali mereka dapatkan. Yang mereka dapatkan. Merekalah yang mendapatkan. Sedang aku? Hanyalah sesosok Kanya dengan zero rasa cinta.
***
Matahari di hari Selasa yang tengah kujalani ini terasa kian menerik dari biasanya. Dengan energi yang terkumpul dirasa minim karena semalaman tadi dihabiskan dengan obrolan tak karuan, bergontailah kakiku menapaki jengkal-jengkal paving block dari ruang kelas Sejarah menuju masjid. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku dari belakang, tapi belum mau aku menoleh padanya.
“Kanya!” Begitu panggilnya padaku. Suara yang kukenal sebagai Prita itu kemudian mendekat dan kami pun sudah berjalan sejajar sekarang. Berbarengan kami menuju masjid untuk melaksanakan salat dzuhur berjamaah. Sementara Prita nampak bersemburatan riak bahagia.
“Seneng kenapa nih?”
“Boy, Nya. Tadi dia nanyain tentang Biologi ke gue. Ya biasa aja sih sebenernya nothing's special. Tapi gue seneng!”
Aku sedikit mengernyit. Memikirkan segala dampak yang akan terjadi jika mengutarakan tanggapan A, tanggapan B, atau apabila aku hanya diam saja tanpa menanggapinya.
“Kok lo nggak nanggepin, Nya?”
Ah, Prita! Kamu menangkap kebingunganku rupanya. Aku pun membatin.
Untung sekali, sebelum aku lebih gelagapan lagi didepannya, langkah kami sepakat terhenti di depan serambi belakang masjid bertepatan dengan lafalan iqamah yang berkumandang. Sontak, aku menyeru, “Nanti aja, Ta. Kayaknya ada yang perlu gue omongin ke lo juga, deh.”
Setengah mengebirit, Aku pergi meninggalkannya yang sedang berhalangan salat, ke tempat berwudlu. Entahlah. Entah mimik apa yang tergambar pada wajah Prita sekarang. Mungkin dia hanya penasaran dengan rikuhku. Tapi aku, terlalu iba memikirkan bagaimana cara yang tepat mengatakan padanya bahwa Boy bukan lelaki yang tepat untuk dicintainya. Bahwa Prita, teman baikku, harus tahu bahwa Boy tidak memilihnya. Ah, Prita!
***
Benar saja. Seperti dugaanku, Prita yang memang punya rasa penasaran tinggi tak lantas mengartikan kata ‘ntar’ sebagai lusa, besok, atau nanti saja sepulang sekolah. Selepas dzikir dan menipisnya jamaah salat dzuhur, ia menghampiriku yang masih lengkap memakai mukena.
“Apa, Nya?” Prita memulai percakapan di istirahat siang ini. Duduk disampingku dan memasang dudukannya serileks mungkin.
Aku masih gusar menjawab. Kusembunyikan rasa ibaku dengan tetap terus berdzikir. Oh Tuhan, haruskah kumengatakannya?
“Kenapa, Nya?” Kali ini dengan suara yang lebih berat dan seolah bersiap dengan apapun yang akan kukatakan.
“Lo beneran suka sama Boy?” Pertanyaanku ini justeru membuat lawan bicaraku sekarang mengulum senyum kecil. Sangat kecil, mungkin. Tapi masih dapat kulihat.
“Lo udah ngedenger gosip tentang Boy, Nya?” Sontak pertanyaannya membuatku kaget dan membatu. Diluar perkiraanku, Prita lebih mengetahui apa yang akan kukatakan padanya.
“Dan sekarang lo mau wanti-wanti gue supaya nggak terlalu berharap? Lo mau ngingetin gue kan?”
Aku tak punya daya apapun sekarang. Entahlah. Detik-detik ini sama sekali tak kusukai. Dengan rasa tidak enak yang begitu tinggi, aku tetap mencoba menyembunyikan rasa gugupku.
“Terus menurut lo, Nya?” Ah, Ta! Sudah tahu aku rikuh begini, masih saja kamu bertanya.
“Persis sama apa yang lo omongin, Ta.  Gue cuma temen lo, Ta. Gue tau kalo lo ngerti kenapa gue harus ngomong ini ke lo.”
“Makasih, Nya. Tapi bahkan gue sendiri nggak peduli sama Mannequin. Kan Boy punya hak buat suka sama orang. Kayak gue yang berani buat suka sama Boy dan ngerasa berhak buat milikin rasa itu. Gue manusia. Gue juga nggak tau kenapa Tuhan ngasih rasa ini ke gue.”
Kini, aku mulai berani menatap matanya. Nanarnya bahkan lebih ceria dibanding aku. Kenapa aku ini? Lagi-lagi aku membatin.
“Bukannya lebih wajar kalo lo cemburu, Ta?” Aku memberanikan diri menanyakannya. Hening kemudian. Hanya tedengar lantunan ayat suci Al-quran dari pojok masjid sebelah sana. Entah sebelah mana.
“Lo sendiri tau apa tentang suka? Tau apa tentang... Ah! Sebenernya gue nggak suka nyebut kata dari 'C' itu...”
Aku tertegun. Untuk kesekian kalinya kata-kata Prita menyontakku. Kali ini, dadaku memanas. Seandainya Prita bukan teman baikku, mungkin perasaan seperti ini dinamakan ‘tersinggung’. 
“Apa yang salah sih, Ta kalo gue sampe sekarang belum pernah ngerasain suka kayak apa yang lo dan temen-temen lain rasain? Gue masih ngerasa normal, Ta.” Kata-kataku landas begitu saja.
“Emang menurut lo, gue nggak normal kalo misalnya gue tau orang yang gue suka jelas-jelas suka sama orang lain dan gue nggak cemburu bahkan masih biasa aja seolah-olah nggak ada apa-apa? Gue juga masih ngerasa normal, Nya.”
Lekat-lekat Prita memandang mataku. Mungkin sekarang ia bisa menangkap mataku yang membasah. Aku membuang muka. Menerawang dinding kanan masjid.
“Kita nggak salah, Nya. Apa yang salah kalo gue tetep seneng bisa dapet kesempatan ngobrol sama Boy meskipun sebenernya gue tau dia udah suka sama orang?” Aku masih saja menerawang. Belum mau melihat wajahnya lagi. Aku tahu bahwa ia pasti mengerti kalau aku tidak sedang marah.
“Menurut lo ‘rasa itu’ fitrah, Ta?” Aku malah balik bertanya. Wajahku kutundukkan sehabisnya.
“Jelas lah, Nya. Kan Tuhan yang ngasih. Makanya, lo yang kasian karena nggak pernah ngerasain fitrah itu. Bukan gue yang perlu dikasihanin. Hahahaha.” Prita terbahak dibarengi tawaku pula. Ejekannya ampuh mencairkan keheningan percakapan ini. Aku memukul-mukulnya pelan. Sehabis terkekeh, aku berucap lagi,
“gue nggak mau sok suci, Ta. Tapi kan gue masih punya Allah.”
“Maksudnya?” Prita bertanya tidak mengerti.
“Sejauh ini, belum ada lagi selain Allah dan keluarga gue lah yang gue cintai.” Aku berkata mantap.
“Terus, lo nggak nganggep gue nih?” Prita bertanya sambil mendongakkan kepalanya. Sementara aku tak sanggup menjawab apapun atas pertanyaannya. Tanpa basa-basi, aku memeluknya. Hangat. Mendekap teman terhebatku yang tak lantas diacuhkannya.
Siang ini, kami mengerti banyak makna. Memahami bermacam rasa walaupun tidak selalu ada alasan mengapa Tuhan memfitrahkan atau menangguhkan anugerah-Nya. Sementara belum kulepas pelukannya terhadapku, bel masuk kelas berbunyi nyaring. Namun sekarang, detik ini, suara bel itu terdengar lebih merdu dari biasa.
Terimakasih, Prita!
"Prita" dan "Kanya" di Batutegi, Tanggamus, Lampung 2012

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *

recent posts

Subscribe