#UmairNidaNikah 1: A Depart to Tokyo

2:27 AM


"And dreams are the language of God. When he speaks in our language, I can interpret what he has said. But if he speaks in the language of the soul, it is only you who can understand.”
The Alchemist, Paulo Coelho
***

     Hari itu tepat tanggal 7 Desember 2015, saat saya mendapatkan informasi di Line-group pengajian Beppu tentang sebuah Qur'an competition dari Uyun; adik tingkat saya di kampus yang juga adik kelas semasa di Insan Cendekia (IC). Sebentar lagi kampus saya akan menghadapi winter break, saat dimana kegiatan perkuliahan diliburkan dalam rangka akhir tahunan di musim dingin dan penyambutan terhadap tahun baru. Pada tahun ini, winter break akan berlangsung dari tanggal 24 Desember sampai tanggal 6 Januari 2016. Rencananya, saya akan menghabiskan liburan kali ini dengan bekerja sambilan (baito) yang diset seperti sebuah camp selama sepuluh hari lamanya di kota sebelah, Usa-shi. Namun tampaknya, rencana saya goyah. Informasi lomba tilawah itu berhasil membuat saya tertarik. Menurut informasi yang tertera pada poster yang Uyun kirimkan, lomba tersebut akan diadakan di Tokyo tanggal 30 Desember dan hadiah juara pertamanya adalah tiket Umrah pulang-pergi: salah satu harapan di bucket list saya yang saya targetkan terlaksana bulan Januari tahun 2015 lalu, namun sayangnya belum juga saya diundang untuk bertamu ke rumah-Nya hingga sekarang.
     Faktor lain ketertarikan saya berangkat ke Tokyo kali ini datang juga dari sebuah acara daurah yang akan diadakan di Masjid Asakusa (Masjid Darul Arqam) selama tiga hari dari tanggal 30 Desember 2015 sampai 1 Januari 2016. Karena tanggal 30 nanti saya berniat ikut lomba di lain tempat, saya bisa ikut daurah ini di hari kedua dan ketiganya saja. Pada dasarnya, acara Daurah Asakusa ini seperti program pesantren kilat. Akan ada dua sesi pengajian setiap harinya dari jam 9 pagi hingga tiba waktu dzuhur dan dari sehabis dzuhur hingga masuk waktu ashar. Penceramahnya akan berbagi ilmu dengan tema yang berbeda-beda di tiap sesinya. Selain akan disediakan sarapan dan makan siang gratis dari pihak panitia, para peserta daurah juga boleh menginap di masjid asalkan harus kembali ke masjid paling lambat jam 11 malam. Sementara setelah sesi kedua selesai hingga pukul 10.59 malam, para peserta dibebaskan untuk menghabiskan waktu mereka dengan berwisata keliling Tokyo atau melakukan kegiatan lain tanpa terkait dengan jadwal dari pihak panitia. Kebetulan, ada beberapa anak IC juga yang akan ikut Daurah Asakusa ini. Ada sahabat saya Muthi dari Kyoto dan Kak Daus (kakak alumni IC yang sudah seperti kakak saya sendiri) dari Nagoya yang menyengajakan datang jauh-jauh ke Tokyo untuk ikut daurah ini. Mungkin nanti akan ketambahan juga dengan anak IC lain yang berkuliah di daerah sekitaran Tokyo. Ingin sekali rasanya saya bertemu dengan mereka di Tokyo, sekadar menjalin ukhuwah kecendekiaan yang kalau di Beppu hanya bisa saya dapatkan dari Kak Fahri, Kak Ardi, Kak Arin, Uyun, dan Ica. *eh ternyata banyak juga ya anak IC di Beppu hehe~
     Mendekati tanggal 24 Desember, semakin bingung lah saya. Di satu sisi, upah yang cukup banyak lewat baito di Usa sangat menggiurkan, tapi di sisi lain saya ingin juga berangkat ke Tokyo untuk lomba dan ikut Daurah Asakusa. Sayangnya, beberapa kali mengecek harga tiket pesawat ke Tokyo, kisaran harganya semakin melambung tinggi saja karena mendekati waktu natal dan pergantian tahun baru. Tidak mungkin sekali rasanya kalau saya harus menghabiskan uang terlampau banyak untuk hanya biaya transportasi pulang-pergi Beppu-Tokyo. Tapi herannya, entah kenapa keinginan saya untuk berangkat ke Tokyo malah semakin kuat di H-3 berangkat baito ke Usa. Akhirnya saya pun shalat istikharah dua hari berturut-turut dan terjawablah sudah kegalauan saya di H-2 keberangkatan ke Usa. By any chance, ketika saya membuka laman Facebook, saya menemukan sebuah postingan orang yang menjual tiket Beppu-Tokyo di Mini Share ―grup tempat penjualaan barang bekas pakai khusus untuk anak-anak APU. Orang itu membatalkan keberangkatannya ke Tokyo di tanggal 28 Desember dan menjual tiketnya dengan harga sangat miring. Saya telepon segera Ayah saya untuk meminta izin dan bilang,
     "Kalo Nda ke Usa, Nda bakal nambah uang banyak. Kalo Nda ke Tokyo, justeru Nda bakal malah ngabisin uang..."
     Seperti biasa, Ayah akan menyerahkan pilihannya kepada saya. Ridho orangtua sudah saya pegang. Material paling berharga yang menjadi pembuka kisah saya kali ini sudah saya dapati, yaitu ridho Ayah dan Mamah (klik disini).
     Segeralah saya mengontak orang tersebut untuk memastikan belum ada orang yang berniat membeli tiket darinya. Kemudian di hari yang sama di tanggal 22 Desember itu, saya mengecek harga tiket untuk flight dari Tokyo kembali ke Beppu. Saya pun kemudian mendapati ada sale seharga 4750 yen saja hanya di tanggal 6 Januari, tepat sehari sebelum perkuliahan mulai lagi di tanggal 7 Januari. Sementara untuk tanggal-tanggal lain, kisaran harga tiketnya mencapai dua kali lipat dari harga tersebut atau bahkan lebih.
     Walaupun sebetulnya kembali ke Beppu di tanggal 6 Januari itu saya pikir kelamaan, tapi apa daya kalau ternyata hanya di tanggal itulah tiket yang paling murah ada. Berarti jika saya jadi ambil tiket sale ini, tugas saya selanjutnya adalah memastikan dimanakah saya akan menginap selepas Daurah Asakusa usai tanggal 1 Januari sampai hari kembalinya saya ke Beppu di tanggal 6 Januari nanti. Karena satu dan lain hal, saya tidak langsung mereservasi tiket tersebut saat itu juga. Besok sajalah, pikir saya.
     Hari itu saya juga mengontak teman saya yang menjadi penanggung jawab untuk baito ke Usa. Saya bilang padanya kalau ada besar kemungkinan saya batal berangkat ke Usa. Kepastian tentang cancellation ini akan saya beritahukan besok. Walaupun memang sangat mendadak, untungnya tidak terlalu jadi masalah karena ada banyak anak-anak APU lain di waiting list-nya yang tertarik ikut ke Usa juga namun sifatnya masih cadangan dan bersedia menggantikan saya.
     Esok harinya tepat tanggal 23 Desember, saya sudah deal dengan pemilik tiket Beppu-Tokyo yang saya kontak kemarin lewat Facebook. Dia akan segera mengirimkan tiketnya lewat e-mail sementara uangnya nanti saja dibayarkan sekembalinya saya dari Tokyo, begitu katanya. Soal baito pun, sudah ada penggantinya. Saya juga sudah mengontak Kak Aini, kakak alumni IC yang tinggal dekat Tokyo barangkali saya dibolehkan tinggal beberapa hari di tempatnya sekitar tanggal 2-5 Januari nanti. Untungnya, si kakak yang belum pernah saya temui secara langsung itu, mempersilakan saya untuk menginap di apartemennya di Tsukuba sana. Terakhir, saatnya saya mereservasi tiket pulang ke Beppu.
     Sejurus detik kemudian, bukannya tiket sale tanggal 6 Januari yang saya dapatkan, saya malah terkaget-kaget ketika melihat sale hari ini sudah pindah ke tanggal 10 Januari, padahal kemarin sale-nya masih nangkring di tanggal 6 Januari. Kali ini, tak sampai lama saya mengambil tindakan. Tanpa perlu shalat istikharah dulu seperti memutuskan perkara sebelumnya, saya mereservasi tiket sale di tanggal 10 Januari tersebut dengan segera karena takut sale-nya pindah lagi ke tanggal lain. Berarti perjalanan saya di Tokyo akan diperpanjang dari yang tadinya direncanakan berangkat tanggal 28 Desember dan pulang tanggal 6 Januari, sekarang menjadi punya tambahan waktu lebih lama tiga hari lagi. Entahlah Kak Aini apakah masih mau dia menampung saya lebih lama lagi. Entahlah bagaimana nasib tiga mata kuliah yang saya skip seharian di hari Kamis tanggal 7 nanti, tapi untung saja ketiganya tidak terlalu mementingkan presensi. Dan entah-entah yang lainnya lagi. Yang jelas, pada saat itu saya hanya berpikir, kalau Allah saja bisa dengan tiba-tiba sekali mendatangkan tiket Beppu-Tokyo untuk saya justeru di H-2 keberangkatan saya ke Usa, apakah kepindahan tanggal tiket sale Tokyo-Beppu itu juga sebuah pertanda? Apakah kepindahan tanggal kembalinya saya ke Beppu juga punya maksud tersendiri dari-Nya? Keajaiban apa lagi yang ingin Allah hadiahkan untuk saya di Tokyo nanti? Kenapa Allah ingin saya berada di Tokyo sampai tanggal 10 Januari?
***
"Pada dasarnya manusia adalah bagian dari alam, jadi pada saat manusia dilahirkan, secara natural kita memiliki bahasa yang sama dengan alam. Sayangnya saat kita mulai beranjak besar, kita mulai diajarkan menggunakan bahasa kita sendiri, jadi kita mulai lupa dengan bahasa alam. Jadi walaupun semesta ini memberikan berjuta pertanda kepada kita, kita yang mulai sombong ini tak 'kan bisa memahaminnya."
Firasat, Rectoverso, Dee Lestari

Flight pertama saya dengan kursi dekat jendela. Pertanda baik?

You Might Also Like

2 komentar

  1. Penasaran cerita selanjutnya >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Wardah!
      Makasih ya, udah support aku buat nyelesein ceritaku ini ^^
      Semoga kita bisa selalu saling tebar kebaikan. Aamiin...

      Delete

Popular Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *

recent posts

Subscribe