Tentang Jejak

9:08 PM


     Tentang jejak. Tentang “Atsar”. Tentang bagaimana manusia mematrikan dirinya di bumi milik Tuhan. Sudah saya bilang, “raga” itu dari Tuhan. Sementara “diri”, manusia yang menghidupkan. Ada banyak perihal cara manusia menghidupkan dirinya. Dengan ru’yah. Dengan pandangannya. Dengan pengaruh. Dengan wibawa. Dengan segala teori soal asal muasal Tuhan dan kehidupan, hingga teori tentang kuman. Kali ini tentang bagaimana manusia, yang diberi raga dan dianugerahi sebuah diri, menentukan pilihan dalam kehidupan. Sebelum semua dikebumikan.
     Ada semacam aliran dan pola pikiran, yang manusia bisa hinggapi sebagaimana alurnya menghendaki. Tapi kemudian, ketika zaman bergantian dan musim berpapasan, entah sufi dan pemikir rusak yang mana yang mengubah mufakat tersebut. Katanya, jadilah orang yang baru. Jadilah manusia yang berdikari tidak ikut kesana kemari. Katanya, buatlah sekenario sendiri. Ketika banyak orang mendayungkan rakitnya ke satu hilir yang sama, kelokanlah laju rakit yang kita tumpangi ke sebuah hilir baru meski keberadaannya pun belum tentu kita ketahui. Barangkali kitalah manusia pertama yang menyinggahi. Itulah beda invention dan discovery.
     Manusia memperindah raganya. Sesekali lupa menghias dirinya. Menghias isi kepalanya. Membuka mata hatinya. Lupa pula menginjakan kaki ke pelbagai ranah yang menyelenggrakan sekolah kehidupan. Ternyata tidak sesekali. Manusia lupa banyak-banyak. Suatu hari manusia dipinta lagi raganya oleh Tuhan, manusia pasti akan sesali segalanya. Segala yang tidak sempat diraihnya, dikerjakannya, dirasainya, dicicipinya, dinikmatinya, disentuhnya, dijamahnya, dihelanya, diseriusinya, bahkan atas apa yang belum dikentutinya.
     Lebih jauh lagi, setelah masa pengkebumian, setelah tersemat namanya sebagai alumni sekolah kehidupan, manusia lupa membuat jejak. Manusia lupa bertapak! Manusia membawa raganya beserta dirinya keluar dari bumi Tuhan. Padahal, sudah dibilang bahwa “diri” itu tentang kehidupan dan “raga” itu soal bernafas dari hidung, makan dari mulut, dan buang kotoran saja. Manusia lupa mematrikan eksistensinya di bumi Tuhan. Manusia lupa membuat ajaran. Lupa meneruskan perjuangan lewat teman sekawan, teman satu kuliahan, atau teman sepermainan. Lupa memberi kontribusi dan menginspirasi. Ketika manusia diperdengarkan sebuah ucapan; “Bahkan bayi yang meninggal satu detik setelah kelahirannya saja, pasti punya misi kenapa dia diciptakan oleh Tuhannya dan dikirim ke alam dunia”, bisa jadi manusia akan sedikit tenang. Manusia akan berfikir bahwa setidaknya, ketika ia lupa meninggalkan jejaknya di dunia, mungkin ada satu misi yang ia tinggalkan di atas tanah sana. Mungkin. Wong bayi yang langsung meninggal saja diamanahi misi ke dunia tho?
     Tapi manusia yang begitu, manusia yang tidak meninggalkan jejak seperti itu, manusia yang lupa memberi dunia setidaknya satu kontribusi saja namun percaya dirinya telah menanggalkan satu misi yang Tuhan amanahi, bodohlah ia jika tetap tidak mengetahui misi apa yang sebetulnya telah ia sampaikan pada penduduk bumi. Manusia yang lain akan menertawai. Tentu saja. Karena misi yang ditinggalkan oleh manusia macam begitu, adalah menyampaikan sebuah cerita tentang seorang manusia bodoh yang lupa membagi sisi kebergunaannya sebagai manusia kepada sesamanya.

Beppu, 5 November 2013
09.55 - 10.50 PM



You Might Also Like

2 komentar

Popular Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *

recent posts

Subscribe