Setahun Bersama

11:59 PM





     Tepat pada hari ini, setahun yang lalu, ada rasa bahagia yang tidak bisa diungkap kata. Sesekali, bidik kamera dari beberapa tamu wanita yang hadir berusaha menangkap senyum saya yang tak karuan tapi tidak juga cengengesan. Yang saya ingat betul dari peristiwa setahun lalu adalah gerimis yang rintik di pagi hari, wajah para tamu yang benar-benar saya tidak sangka akan betulan pada datang, dan seruak dingin yang membuat saya kebelet pipis seketika masuk di lantai tiga Masjid Hachioji; padahal saat itu saya sudah bergaun pengantin lengkap dengan berbagai aksesoris kepala dan polesan bedak serta gincu yang tebalnya tidak seberapa.
     Lebih dari sekadar selebrasi satu tahunan, hari ini saya kembali lagi mengingat momen-momen bahagia tersebut di depan sebuah layar 13 inchi: monitor laptop baru yang saya dapatkan dua hari lalu sebagai hadiah dari suami saya. Padahal setahun lalu tepat pada hari ini, laki-laki yang sekarang saya bilang suami  hanyalah manusia asing berjenggot dan bercelana cingkrang yang datang ke kawinannya sendiri dengan qurtah putih sederhana tanpa jas perlénté, walaupun tetap rapi, bersih dan wangi. Di hari itu, sepertinya tamu pria yang hadir di lantai dua masjid pada hari pernikahan kami lebih keren dibanding suami saya yang jadi mempelai prianya. Tapi hari ini, 366 hari dari akad nikah kami, mau sudah mandi atau belum mandi pun, rasa-rasanya tetap saja suami sayalah pria paling ganteng buat saya di muka bumi ini, hihi. Aneh ya, bisa-bisanya cinta mengalahkan kegantengan aktor kenamaan Hollywood.
     Menjalani satu tahun pernikahan yang kebanyakan waktunya diisi dengan pisah ranjang alias LDR-an di dua kota berbeda berjarak satu kali penerbangan 2 jam, membuat kami berdua terbiasa dengan rasa kangen luar biasa. Tapi di sisi lain, jarak inilah yang membuat kebersamaan kami di masa libur kuliah saya menjadi momen paling berharga. Ternyata benar kata orang-orang bahwa tahun pertama pernikahan itu banyak cobaannya. Awalnya kami berencana LDR-an sampai empat bulanan saja, kemudian saya berniat pindah sekolah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah kami di Hachioji, Tokyo. Tapi ternyata, entah ini ujian kesabaran atau sebuah jalan menuju hadiah dari Tuhan yang belum tahu wujudnya akan seperti apa di hari kemudian, garis nasib saya malah membawa saya kembali tinggal di Beppu. Walaupun tentu saja kembalinya saya ke Beppu untuk meneruskan sekolah di APU juga hasil dari diskusi kami berdua dan orangtua-orangtua kami, tapi kami juga yakin bahwa keadaan ini adalah bagian dari takdir yang harus kami jalani dengan sabar dan percaya bahwa pasti ada hikmah di balik ini semua.
     Setahun belakangan ini, selain diuji oleh jarak, layaknya pengantin baru pada umumnya, kami pun diuji soal mengesampingkan ego pribadi. Di banyak kasus, saya yang jauh lebih muda dari suami dan childish ini masih sangat tertatih-tatih untuk bisa mempersepsikan segala yang masuk dan keluar dari rumah tangga kami lewat kaca mata "kita" bukannya "aku". Logika berpikir saya terkadang ambruk oleh luapan emosi sisi wanita saya yang memang dicipta lebih perasa dibanding pria. Untungnya, bersuamikan sesosok orang yang lebih paham ilmu agama dibanding saya sebagai isterinya, memudahkan segala bentuk konfrontasi kekanak-kanakan saya terhadapnya di beberapa pertengkaran kami untuk luruh dan kemudian terkendali. Yang ada, saya sering dibuatnya terpingkal di tengah amarah saya karena ulahnya yang gemesin. Dia tahu cara menasehati saya secara baik dengan berbagai retorika yang sebetulnya disusupi ceramah terselubung tanpa sedikit pun kesan menggurui. Dia, entah kenapa, selalu bisa membuat saya luluh. Kedewasaannya membantu saya mematangkan diri saya juga.
     Setahun bersamanya membuat saya merasa sangat cocok dengannya, bukan karena saya terkesima dengan segala kelebihan yang ada pada dirinya tapi hanya karena Maha Besar Allah-lah yang telah apik mendesain rantai jodoh manusia. Ya memang karena saya cocoknya dengan dia saja sebagaimana ayah saya cocoknya dengan mama saya. Pun, dengan jutaan pasangan lainnya. Inilah kenapa fenomena jodoh yang Allah terangkan dalam Al-qur'an adalah salah satu tanda kekuasan-Nya (QS. Ar-rum: 21). Saya sering berpikir, bagaimana bisa ya, ada satu orang di antara miliaran manusia di bumi ini yang sengaja didesain khusus untuk kita sebagai "libas" atau pakaian yang bisa menerima kita apa adanya, tetap mencintai kita bahkan ketika ia sudah mengetahui aib dan keburukan kita, padahal kitanya sendiri didesain sebagai makhluk tidak sempurna yang berpotensi tidak disukai oleh segelintir orang. Pasti ada orang yang suka dengan kita dan tentu saja ada juga orang yang tidak suka atau tidak cocok dengan sifat dan karakter kita. Itu sudah teori umum. Sudah hukum alam. Tapi jodoh, adalah satu-satunya yang ditakdirkan bersama, dikaruniai oleh-Nya rasa cinta dan ketertarikan kepada kita setiap harinya, hingga tua bahkan hingga tenggat berpisahnya raga dengan nyawa.
     Walaupun sudah setahun bersama dan saling merasa cocok, sampai sekarang pun saya yakin betul bahwa saya belum kenal suami saya 100%. Saat kami berada di sebuah toko bahan makanan halal semingguan lalu misalnya, suami saya menawar harga daging sapi 1 kg dari 1500 yen supaya jadi 1400 yen. Padahal menurut saya, menawar 100 yen itu enggak penting-penting banget. Nominal 100 yen disini hanya laku untuk satu barang di Daiso, itu pun masih harus kena pajak 8% jadi 108 yen. Tapi anehnya, ketika si penjual memberikan dagingnya untuk kami seharga yang suami saya mau sambil memberi kami bonus 2 sachet bumbu kare, suami saya sepakat untuk membeli dagingnya tapi menolak bumbu kare gratisan tersebut. Selepas keluar dari toko tersebut, suami saya menjelaskan bahwa di toko lain ia selalu dapat daging 1 kg seharga 1400 yen, jadilah ia menawarnya karena hal tersebut diperbolehkan dan dianjurkan dalam Islam. Sementara, mengambil hadiah yang dia tidak merasa berhak atasnya akan merugikan bisnis orang tersebut. "He's running a business, I can't take his goods for free," begitu tambanya. Di momen ini rasanya saya malu banget, ternyata saya belum kenal suami saya dengan baik karena awalnya saya sempat berpikir kenapa suami saya kok perhitungan banget, ya? Tapi ternyata, ia hanya menjadi seseorang yang bertanggung jawab terhadap ilmunya. Ia sekadar mempraktikkan apa yang sudah dipelajarinya, karena kalau betul ia perhitungan, pasti sudah diembat juga olehnya 2 sachet bumbu kare gratisan itu. Ah, lagi-lagi saya diajarinya lewat aksi, bukan lewat kultum pagi.
     Selain penyadaran untuk tiada hentinya saling mengenal secara terus-terusan, saya juga jadi sadar tentang esensi dari sakinah-mawaddah-wa-rahmah yang sering didoakan orang-orang di sebuah acara pernikahan. Tidak sedikit kita mendengar nasihat bahwa menikah itu tidak hanya untuk dapat teman hidup, teman makan, teman tidur, dan teman bermesra saja tapi juga harus saling dukung untuk saling menggapai cita-cita masing-masing. Tapi, saya malah merasa bahwa letak kedamaian/ketenteraman, cinta dan kasih sayang yang merupakan arti literal dari sakinah-mawaddah-wa-rahmah justeru ada pada saat ia hadir di tiap jam makan kami ketika tangan kanannya menyuapi saya, atau di jam tidur kami ketika kami saling mencukupi kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa dicukupi oleh sepiring makanan saja. Tanpa bermaksud mengkerdilkan esensi dan niat agung pernikahan yang harus dibawa sampai ke jannah-Nya, saya bermaksud bilang bahwa sakinah-mawaddah-wa-rahmah itu ada di aktivitas sehari-hari. Sakinah-mawaddah-wa-rahmah ada pada sekecil-kecilnya perlakuan baik pasangan kita terhadap kita dan juga sebaliknya, serta sebesar-besarnya rasa syukur kita terhadap hadirnya pasangan kita di hari-hari kita. Intinya, walaupun betul menikah adalah ajang untuk 'mengangkasa dan meraksasa', ajang untuk bersemangat menuai prestasi atau karir yang lebih cemerlang lagi, tapi peran suami-isteri dalam rumah tangga sebagai teman hidup, teman makan, teman tidur, dan teman bermesra adalah sedasar-dasarnya pemenuhan hak dan kewajiban keduanya yang jika diniatkan karena Allah, ya ujung-ujungnya jadi tabungan ibadah juga.
     Semoga kelak saya dan suami saya bisa 'mengangkasa dan meraksasa', dengan kedelapan putera-puteri kami yang bisa jadi jalan orang-orang di negeri ini mendapat hidayah, tanpa larut dalam kesibukan yang melupakan peran dasar kami sebagai teman hidup, teman makan, teman tidur, dan teman bermesra. Aamiin.
     Selamat setahun bersama, sayang... Walaupun kamu enggak bisa baca tulisanku ini, intinya, mari berjuang untuk tahun-tahun yang akan datang dan keabadian <3

You Might Also Like

2 komentar

  1. Senang sekali bacanya hehe. Semoga kapan kapan bisa ketemu sama nida dan suami amin amin ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhhh Ghea ^^
      Makasih banyak udah ikut senang, ditunggu kunjungan kamu dan Mas Hanif ke Jepang ya!

      Delete

Popular Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *

recent posts

Subscribe