Pada Hari Ini, Tiga Minggu Lalu.

9:47 AM


Seharusnya tulisan ini rampung ditulis dan di-post tanggal 12 Maret 2016 lalu, tepat tiga minggu setelah akad nikah saya dan suami digelar. Hanya saja terlalu banyak hal yang mengalihkan prioritas saya dari kegiatan blogging, sehingga baru bisa saya kelarkan tulisan ini hari ini, setelah empat bulanan masa pernikahan. Niatan untuk menyelesaikan tulisan ini lahir karena saya butuh semacam pengingat. Sekadar koleksi catatan hikmah untuk self reminder saja.
p.s.: foto-foto di bawah adalah momen-momen di tiga minggu pertama pernikahan kami.

***
    Dimulai dari hari Sabtu tiga minggu lalu, ada dua sejoli yang saling menemukan. Memulai hidup berpasangan. Sedikit demi sedikit menata rapi banyak perbedaan. Mengkompromikan banyak hal yang bersinggungan. Layaknya dua pemain kartu di sebuah casino, yang satu mengorbankan sekian, yang satu lagi pasang taruhan sekian. Tapi dalam permainan kartu ini, tidak ada pihak yang kalah karena dua-duanya sudah dijanjikan untuk menang. Dua-duanya dijanjikan keberkahan berlipat-lipat dari indahnya pernikahan. Yang mau protes soal aturan main ini, silakan ajukan banding ke Tuhan, ya. Hehehe.
     Tiga minggu menjadi isteri orang, bagi saya, adalah masa paling menyenangkan dimana waktu berjalan sangat cepat tapi sekaligus seperti lamaaaa sekali. Saat-saat bersama suami menjadi hal yang begitu berarti. Sebagai social media freak, ada bagusnya juga hape saya mengalami error hebat dari semenjak hari-hari menjelang pernikahan. Hingga akhirnya ketika saya dan dia resmi menjadi sepasang suami-isteri dan saya pun masuk ke sebuah dunia baru, saya seperti keasyikan sendiri dan lupa bahwa ada dunia lain yang biasanya saya jamah lewat hape saya melalui banyak social media yang saya punya. Adiksi saya akan smartphone sedikitnya tersembuhkan. Namun sayangnya, saya jadi lupa kasih kabar, update, membalas pesan, memencet tombol enter untuk pesan balasan yang sudah diketik, dll. Karena hape saya hanya bisa berjalan baik dalam keadaan charging saja, jadilah saya malas bersentuhan lagi dengan si Xperia tersayang. Untuk hal yang satu ini, saya sangat mohon maaf sekali kepada teman-teman dan saudara-saudara serta kerabat yang mengirimkan saya pesan, ucapan selamat, salam, dan doa-doa melalui banyak cara dan bentuk ungkapan. InsyaaaAllah akan segera saya tindaklanjuti pesan-pesannya berhubung semenjak beberapa hari lalu, saya resmi punya hape baru. Yeah. Apalagi katanya banyak yang bilang kangen sementara sayanya seperti ditelan bumi atau kelelep di lautan Bermuda. Pun untuk beberapa pekerjaan di organisasi yang saya tinggal sebentar, secepatnya saya akan kembali. Wuusshh.
     Di satu sisi, rusaknya hape dan keterasyikan saya pada dunia baru ini membuat saya lebih punya banyak waktu untuk bonding time bersama suami. Secara sangat natural sekali, kehadirannya tiba-tiba saja seperti menjadi kebutuhan nomor satu bagi saya untuk saat ini. Setelah menikah tanggal 20 Februari lalu, saya tinggal di sebuah apartemen di area yang berjarak dua stasiun saja dari Masjid Hachioji sampai tanggal 15 Maret, untuk selanjutnya kembali ke Beppu dan menghabiskan sisa liburan di kota kecil ini sebelum semester baru dimulai tepat tanggal 11 April 2016 nanti. Di tengah pekerjaan utamanya sebagai imam masjid dan mengisi beberapa kelas di Masjid Hachioji, setiap ada jeda beberapa jam saja dari waktu shalat ke kelas berikutnya, saya upayakan untuk ketemuan. Terdengar berlebihan ya? Tapi malah menurut beberapa orang yang sudah menikah sebelum kami, justeru aneh kalau di masa-masa awal pernikahan kita tidak kangen dengan pasangan kita saat ditinggal barang sejam dua jam saja. Mungkin hal ini termasuk ke dalam pengetahuan yang susah dijelaskan sebelum merasakannya sendiri. Untuk yang ingin mengerti, silakan nikah dulu baru paham nanti. Wkwk.
     Dalam tulisan kali ini, saya sekadar ingin merekap beberapa buah pikir yang saya temui selepas saya berstatus sebagai isteri; sematan yang menandakan tentang perubahan status sipil saya dalam KTP dari "BELUM KAWIN" menjadi "KAWIN". Ibarat kata, anggaplah saya ini semacam researcher yang melakukan penelitian lapangan secara langsung. Maka apa yang saya tuturkan kemudian dalam tulisan saya ini adalah rangkuman dari hasil observasi dan respon dari pengalaman yang saya alami sendiri. Dalam tiga minggu ini, banyak sekali pengetahuan baru yang saya temui dalam pernikahan saya yang masuk ke folder "Baru bisa dimengerti kalau sudah mengalami sendiri" di arsip memori otak saya.

Saat kami rusuh-rusuhan nge-print kelengkapan surat nikah di Sevel dekat KBRI Tokyo

Saya 'paksa' suami untuk belikan saya setangkai bunga dari florist ini
Cek gigi bersama
We got a dinner treat, yeay!
Nge-date di Starbucks malam-malam ihiy!
Makan siang di Yoyogi
     Hal pertama yang saya temui adalah perihal soal cinta; Mahabbah. Ternyata benar ya, bahwa rasa cinta itu adalah anugerah yang amat luar biasa. People aren't lying when they say, "cinta setelah nikah itu betulan cinta, sementara cinta sebelum nikah itu hanyalah nafsu belaka".  Di hari kesekian dari ijab kabul pernikahan saya, betapa mudahnya bagi Allah mengaruniakan saya dengan rasa cinta yang begitu hebat untuk seseorang yang tadinya hanya orang asing di hidup saya sebulanan lalu. Orang yang tidak sengaja datang dari banyak kebetulan yang Allah takdirkan; kebetulan dapat info soal lomba Qur'an, kebetulan dapat tiket pesawat pulang ke Beppu mundur beberapa hari, kebetulan hilang dompet, kebetulan 'dipungut' orang baik untuk numpang di rumahnya, kebetulan dikenalkan dengan seseorang yang pada akhirnya mengenalkan saya kepada sang suami, dan berbagai rentetan kebetulan lainnya yang bagi orang Islam lebih dipandang sebagai ketetapan Tuhan. Ah, Maha Besar Allah yang membolak-balik hati kerdil saya ini untuk pada akhirnya mencintai orang asing tersebut. Ternyata begini ya, rasanya mencintai seseorang tanpa alasan dan tanpa syarat serta ketentuan. Kalau kata Katy Perry, "I will love you unconditionally..." Ceileh~
     Kenapa saya katakan tanpa alasan? Karena pada akhirnya, saya tidak menemukan jawaban lain dari why do you love me selain I love you because I love you. Ternyata, ia dengan segala macam titel, karakter, keilmuan, paras, dan segala tek-tek bengek yang menjadikan dirinya sebagai ia sekarang hanyalah rangkaian pita, kemasan, dan kertas kado yang sepaket datang bersamaan dengan kehadirannya dalam hidup saya, sementara isi hadiahnya adalah dia sebagai dirinya sendiri. Hehe njelimet, ya? Makanya saya bilang bahwa ilmu tentang hal ini adalah ilmu yang masuk ke folder "Baru bisa dimengerti kalau sudah mengalami sendiri" di arsip memori otak saya. Jadilah ketika saya ditanya tentang how marriage life is, saya hanya menjawabnya dengan mengatakan, "Ya jadi ngerti gimana rasanya jadi Mamah dan Ayah, yang pada akhirnya mereka lebih memilih kata I can't live without you daripada I love you," terang saya pada salah satu caption foto di Instagram. Mahabbah yang Allah berikan ternyata bisa begitu kuat, ya? Padahal saya tahu persis bagaimana sukanya saya terhadap seorang teman laki-laki selama hampir lima tahun yang saya pikir sudah akut, tapi ternyata sekarang saya ukur-ukur lagi bahwa kekaguman dan rasa suka saya terhadapnya itu ibarat seujung kuku saja dari mahabbah yang Allah limpahkan kepada saya untuk suami saya sekarang.
     Intinya, jangan pernah takut jika kalian dihadapkan pada pilihan untuk menerima seseorang yang belum kalian cintai, da kita mah naon atuh? Hati kita juga memangnya siapa yang ngatur? Tentu saja Allah punya maksud ketika kita diperintahkan untuk membersamai seseorang yang dilihat hanya dari agamanya saja, sementara cinta urusan belakangan. Tentu ada hikmah kenapa kita lebih perlu menilai calon pasangan kita dari agamanya dulu ketimbang tiga perkara lainnya yaitu harta, keturunan, dan paras muka. Sementara itu, harus diingat bahwa salah satu ciri calon pasangan yang baik agamanya secara ilmu dan praktik bisa dipastikan tidak memilih jalur pacaran sebagai jalan pencarian jodohnya karena ia paham bahwa tidak ada cinta sebelum pernikahan, ialah nafsu yang syetan hiasi dengan berbagai bentuk agar terasa seperti kasih sayang. Saya dan suami malah sepakat bahwa the best thing in our marriage adalah ketika kita memulai semua prosesnya tidak berdasarkan cinta, rather we feel that we just clicked, visi-misi hidupnya sama, jawaban istikhoroh kami juga sama-sama mengarah kepada keputusan yang sama, dan yang paling penting adalah ridho dari dua keluarga besar terutama orangtua yang merupakan parameter dari ridho Allah Subhanahu Wata'ala. Inilah kenapa kita sering mendengar bahwa katanya, pernikahan itu bukan hanya perkawinan dua insan tapi penyatuan dua keluarga besar. Makanya salah banget jika ada prasangka kalau saya menikah atas dasar keputusan saya sendiri atau semacam result dari kehilangan arah dan tujuan hidup, wkwk. Lha yang namanya menikah itu ya tentu yang mikirinnya juga banyakan, rembugan keluarga besar, istikhorohnya juga nggak hanya oleh saya dan Umair-san doang. Ah, kadang kita manusia memang suka terlalu ikut campur dengan takdir yang Tuhan suratkan atas nasib seseorang.
     Temuan kedua saya tentang ilmu pernikahan ialah; bahwasanya benar pernikahan itu merupakan proses perkenalan tiada henti. Benar kata Ustadz Salim A. Fillah yang pernah menyampaikan bahwa selama apa pun sebuah jalinan rumah tangga berlangsung, selama itu pula proses ta'aruf antara suami dan isteri mesti terjaga. Karena pada dasarnya, tugas kita untuk pasangan kita adalah mencintainya secara utuh, dalam artian kita juga perlu mencintai tidak hanya kelebihannya tapi juga segala kekurangannya. Beberapa hari lalu, saya membaca tulisan Azhar Nurun Ala tentang catatan pernikahannya dengan sang isteri (klik disini). Katanya, Bang Azhar menyadari bahwa hal paling esensi dari pernikahan adalah hati yang seluas-luasnya menerima pasangan kita dari awal berkenalan dan tak cukup sampai hari pernikahan tiba saja, melainkan berkenalan terus-terusan hingga kelak menua dan menjalani rumah tangga bersama sampai waktu habisnya tiba. Dari tulisannya itu saya seperti merasa didukung, bahwa toh nyatanya saya yang belum kenal sama sekali dengan suami saya ini pada akhirnya sama saja dengan jutaan pasangan lain yang pacaran atau ta'arufan lama sekali dengan pasangannya sebelum menikah, karena mereka pun (pada akhirnya) setelah menikah harus melewati banyak sekali adaptasi dan perkenalan lanjutan yang tak ada henti-hentinya. Hal ini juga senada dengan apa yang ditulis oleh Teh Foezi Citra Cuaca dan suaminya dalam salah satu buku mereka yang pernah saya baca. Intinya, pernikahan itu berisi dua insan yang terus-terusan saling mengenal ketika banyaknya halang rintang cobaan dan berbagai keadaan kerumahtanggaan telah sedikit demi sedikit merubah sikap, cara pikir, dan sifat mereka dari bagaimana awalnya karakter mereka saat pertama kali dipertemukan oleh takdir kehidupan. Nah, kemudian dari perkenalan tiap waktu inilah penerimaan yang lapang dibutuhkan agar bahtera rumah tangga tetap kokoh, bukannya terkejut dengan sisi baru pasangan kita lalu malah kecewa dan akhirnya terpecahlah janji suci yang dilafalkan di hari sakral dulu.
     Bagi saya, keadaan saya dan suami yang betul-betul orang asing bahkan hingga hari pernikahan kami ini, saya rasa malah jadi bonus tersendiri. Saya jadi tidak terlalu banyak merasa kecewa dengan berbagai ekspektasi karena pada dasarnya memang dia ini adalah orang baru yang akan mulai saya keruk segala identitasnya sejak sekarang. Jadi esensi penerimaan seluas-luasnya itu benar-benar berarti sekali buat saya untuk menjalani biduk rumah tangga dengan sang imam masjid yang beruntung saya dapatkan untuk jadi imam keluarga saya. Terakhir, terlepas dari segala usaha kita untuk menjadikan pernikahan sebagai ladang amal dan raupan nilai ibadah, kekuatan doa tetap saja jadi kunci paling hakiki atas koneksi antara ikhtiar dengan apa yang dicita-citakan. Apalagi urusan hati kan sifatnya berubah-ubah dan hanya Allah yang menguasai.

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrata a'yun waj-'alnaa lil muttaqiina imaamaa...

You Might Also Like

6 komentar

  1. Padahal saya tahu persis bagaimana sukanya saya terhadap seorang teman laki-laki selama hampir lima tahun yang saya pikir sudah akut, tapi ternyata sekarang saya ukur-ukur lagi bahwa kekaguman dan rasa suka saya terhadapnya itu ibarat seujung kuku saja dari mahabbah yang Allah limpahkan kepada saya untuk suami saya sekarang.


    tau bangetlah ini

    apa kabar perckapan di balik tiag-tiang masjid Nda :")

    sayang besok belum bisa ketemu ya Nda? :"(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan apa kabar buku oranye surat2an kita? :")
      Huhu iya nih Nda di Tokyo tgl 8-11 July, Kak Fitri baru sampe Tokyo tgl 16 :"(

      Delete
  2. Assalamu'alaikum ukhti. Terimakasih sudah berbagi tentang banyak hikmah dari pernikahanmu. Sebab saya membacanya bukan sembari baper (hehe) namun lebih kepada merasa kagum dan memetik pelajaran untuk persiapan saya :)
    Semoga Allah mengaruniakan banyak keberkahan dalam pernikahanmu ukhti.

    Salam hangat dari Indonesia :) juga salam kenal dari saya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaykumussalaam ukhti. Sama-sama dan sayalah yang perlu bilang makasih untuk apreasiasinya :)
      Aamiin, semoga persiapannya Ukhti Meka disegerakan hehehe. Aamiin.
      Salam kenal dan salam hangat dari kota pemandian air panas, Beppu <3

      Delete

Popular Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *

recent posts

Subscribe