Aku Merasa Aneh dengan Diriku

12:08 AM

     Ada yang aneh sekarang-sekarang. Aku mendapati diriku begitu peka terhadap orang yang membicarakan orang lain di depanku. Aku merasa begitu malas memicingkan telinga untuk ke-refleks-an seorang muslimah di depanku yang spontan mengomentari seorang perempuan Jepang non-muslim karena berpakaian amat minim dengan bilang, "Ya Allah... Sekalian aja nggak usah pake baju." Hematku, mana bisa perempuan Jepang itu dibuat paham soal tutup-menutup aurat.
     Sesekali, aku pun dibuat memalingkan muka secara tidak sadar dari seseorang yang mengomentari anak Jepang berkulit sawo matang yang lewat di depannya saat kami berjalan bersama kemarin malam di pusat perbelanjaan kota Beppu. Celetuknya, "Itu anaknya item banget ya." Hematku, anak itu memang hitam dibandingkan dengan orang Jepang lainnya, tapi siapa yang tahu kalau dia ternyata punya bapak orang Indonesia, misal? Makanya hitam manis begitu.
     Lebih aneh lagi, aku seperti tidak sudi mengeluarkan sepatah kata pun di sebuah kesempatan sahur bersama dengan beberapa teman pada bulan Ramadhan kemarin saat topik pembicaraan mereka berubah menjadi pembicaraan tentang satu orang yang tingkahnya selalu lucu dan memang suka ada-ada saja. Memang, tidak semua pembicaraan tentangnya adalah hal buruk. Tapi entah kenapa, mulutku seperti direm waktu itu.
     Pada akhirnya kesemua pengalaman tersebut membuat saya berpikir begini:
Kalau seseorang bisa membicarakan orang lain di hadapanku padahal aku tahu betul ia masih berperilaku baik terhadap orang yang ia sedang bicarakan, lalu ia yang juga selalu menolongku dan baik padaku itu bukannya bisa juga membicarakanku kepada orang lain? Bisa jadi bukan tentang aibku, memang. Tapi seremeh apa pun semisal bangun kesiangan, lupa menjemur pakaian, atau kebiasaan burukku yang tak banyak orang lain tahu. Bisa jadi, bukan?
     Dan malam ini, seperti mendapatkan sebuah pembenaran atas buah pikir tersebut, aku menemukan gambar nasihat ini di timeline Facebook:

(Nour Academy Facebook page)
     Aku merasa aneh dengan diriku. Ada semacam perasaan yang selalu ingin menafikan pembicaraan lawan bicaraku saat ia mulai berbicara tentang orang lain. Sekaligus, ada pula perasaan lemah tidak berdaya karena tidak bisa mengingatkannya. Alasannya bisa macam-macam. Karena lawan bicaraku itu lebih tua umurnya, seniorku lah, atau seseorang yang membuatku sungkan. Dan yang paling mendominasi adalah perasaan takut dianggap sok suci kalau aku mengingatkannya.
     Aku merasa aneh dengan diriku. Karena ketika aku peka terhadap hal macam begitu, aku jadi ingat bagaimana kelamnya diriku waktu dulu, yang tidak memperhatikan bahwa perkara menjauhi ghibah adalah hal penting yang semua manusia harus tahu, terlepas harus jadi muslim dulu atau tidak untuk menyadari hal itu. Karena hakikatnya, saat kita membicarakan orang lain, bukan orang yang kita bicarakan yang kita jelek-jelekan tapi kita lah yang mengumbar kejelekan kita kepada orang lain. Wah, di masa-masa asrama dulu, bagaimana bisa aku tidak peduli dengan hal ini? Apa karena di asrama minim hiburan kah, maka gossip adalah hal lumrah untuk menghibur diri dan teman-teman lain? Nastaghfirullah.
     Aku merasa aneh dengan diriku. Bahwa ketika perasaan ingin mengingatkan itu datang, ternyata aku sadar bahwa imanku selemah itu. Karena aku sering tidak jadi mengingatkan karena takut dianggap sok suci atau takut di kemudian hari orang yang aku ingatkan itu mendengarku membicarakan orang lain, bisa-bisa aku dibilang 'makan ludah sendiri'. Padahal, kalau imanku cukup kuat, pikiran-pikiran itu sejatinya tidak perlu karena memang ridho Allah lah yang dituju.
     Beruntungnya, di kemudian hari aku membaca sebuah artikel tentang ghibah yang menyebutkan bahwa jika kita tidak sanggup memperingatkan orang yang melakukan ghibah di hadapan kita, cukuplah hati kita mengingkarinya saja jika memang terpaksa harus mendengarkannya bercerita tanpa ikut mengomentari.
     Aku merasa aneh dengan diriku. Bisa-bisanya aku menulis tulisan tentang kejelekan orang yang membicarakan kejelekan orang lain.
     Aku merasa aneh dengan diriku.

     Beppu, 4 August 2015

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *

recent posts

Subscribe