Yachin Bulan Juli

12:44 PM

         Baru sekitar delapan menit lalu, tepat pukul 14.03 JST di hari ini tanggal 14 Juli 2015 (26 Ramadhan 1436 H), saat sebuah percakapan tentang bagaimana kuasa dzat Yang Terkuasa lagi-lagi menyadarkanku bahwa aku, sungguh hanyalah ketiadaan yang menjadi ada karena-Nya dan aku juga hanya semata-mata kelemahan dan ketidakberdayaan jika tanpa-Nya. Maka dengan segala kerendahdirian, aku menulis hikmah yang barusan saja terjadi itu, di blog pribadiku ini. Semoga Yang Terkuasa mencatatkannya ke dalam amal jariyah, yang jika dibaca akan timbul hidayah untuk semakin tergugah memperdalam kecintaan kepada-Nya.
***
        "Ni, bayaran yachin bulan ini gak usah deh..." Aku melemas. Lututku aku tekuk agar bisa duduk mendekat ke arah pemilik suara tersebut.
        "He... Nande?" Aku beranikan untuk bertanya. Walaupun sebetulnya pertanyaanku ini tidak perlu. Karena jujur, aku lebih menginginkan hutang yachin bulananku segera lunas. Bagaimana pun caranya. Sementara langkahku untuk bertanya, seperti terdengar enggan dan menolak.
           "Mou ii yo. Gapapa deh."
           "Berarti saya boleh bawa uang transferan temen saya itu, Buk?"
        Setelah mengiyakannya, beliau lalu menggiringku ke kamarnya untuk memberiku beberapa lembar yen nominal seribu. Uang itu adalah uang yang dikirim oleh seorang ukhti fillah di Nagoya untukku. Namun, karena akun bank milikku tidak bisa mengakses beberapa fasilitas layanan bank, maka, terhitung bulan Juni lalu, uang yang rencananya akan ditransferkan setiap bulan oleh ukhti fillah tersebut kepadaku sebagai infaq bulanan beliau untukku, aku alamatkan ke rekening Ibuk.
        Aku menerima lembaran uang itu dengan setengah gemetaran. Kemudian, kaki ini seperti refleks saja menggerakkan seluruh anggota tubuhku untuk bersegera menuju tempat favoritku di rumah ini, yaitu sebuah kamar yang sejak awal bulan April lalu aku tempati sebagai tempat tinggal. Seketika, tanpa aba-aba, aku duduk dan bersujud. Sebuah sujud syukur karena terjawabnya munajat yang terhelat setelah bermalam-malam kucoba perbuat secara khidmat.
***
        Bagaimana mungkin aku masih berpaling dari-Nya, sementara cinta-Nya terlalu besar Ia berikan untukku ini yang masih sering alfa dalam memuji-Nya. Aku terbilang anti minta dikasihani oleh orang lain. Sesekali mengeluh boleh saja. Tapi sungguh, cerita ini sama sekali tidak kutujukan untuk membuat simpati orang tertuju padaku. Mungkin sudah banyak cerita tentang perjuangan mahasiswa rantau yang bersusah-susah hingga akhirnya keringat hasil lelahnya berbuah manis dan menginspirasi banyak orang.
        Namun barangkali, ceritaku ini kategorikan saja sebagai artikel ketauhidan tentang nyatanya keberadaan Tuhan sebagai satu-satunya tempat bersandar. Karena kurasa, sepapa apa pun aku, aku memilih menghindari kata "hidup susah" yang biasa disematkan kepada anak-anak di perantauan. Karena nyatanya, sesusah apa pun keadaannya, hidupku ini memang terlalu ajaib untuk disyukuri. Hingga syukur itu sendirilah yang memperisaiku dari kefakiran dan ke-papa-an.
       Terhitung sudah tanggal 12 Juli di malam itu, saat aku memikirkan bagaimana caranya membayar uang sewa bulanan untuk kamar yang aku tinggali di rumah Ibuk sejumlah 15,000¥ setiap bulannya. Semenjak rehat dan cuti sejenak selama satu semester dari kegiatan ngampus disini dan pulang ke Indonesia dari Oktober 2014 hingga Maret 2015, sekembaliknya aku ke Jepang, aku tinggal di rumah seorang Ibuk asli Semarang yang sudah menetap di Beppu selama 24 tahun lamanya bersama suaminya yang mu'allaf dan keluarganya.
        Sesuai perjanjian, uang sewa kamar bulanan (yachin) dibayarkan di awal bulan. Dari tiga bulan ke belakang: April, Mei, dan Juni, paling-paling aku telat setor hingga tanggal 10. Namun hingga hari kedua belas bulan ini, aku belum juga bayar yachin karena aku enggan sekali meminta kiriman dari orang tua yang baru saja mengirim uang dalam jumlah besar untuk bayaran uang semester pada akhir bulan Juni lalu. Sementara itu mirisnya, gaji baito (part time job) bulan Juli ini baru akan kuterima tanggal 15 Agustus nanti. Ibuk memang belum menagih, tapi tentu malu rasanya tiap kali pulang ke rumah dan bertemu Ibuk dengan perasaan mengganjal belum bayar uang yachin untuk bulan ini.
        Dengan kesadaran penuh bahwa sejatinya setiap persoalan hanya datang dari-Nya, pun dengan kunci jawaban atasnya yang juga sama-sama datang dari-Nya, aku mengadukan perkara bayaran uang yachin ini kepada Yang Maha Mendengar. Di awal-awal doaku, aku memohon supaya beasiswa yang aku ajukan ke sebuah lembaga di Indonesia di bulan Maret lalu di masa kepulanganku itu agar cepat cair dan bisa aku pakai uangnya untuk hal-hal yang mendukung segala proses belajarku disini.
        Untungnya, Sang Maha Mendengar segera menyadarkanku bahwa rencana-Nyalah yang paling baik. Boleh jadi aku menganggap bahwa solusi dari bayar-membayar yachin ini ada pada pencairan beasiswa tersebut padahal dapat dipastikan solusi-Nyalah jalan yang terbaik. Pada salah satu takbiratul ihram yang hendak aku dirikan di malam tersebut, aku sempat terpikir barangkali solusinya adalah kerelaan Ibuk untuk mengikhlaskan yachin bulan ini sebagai bentuk shodaqoh beliau di bulan Ramadhan. Untung saja pikiran tersebut hanya mampir barang beberapa detikan. Karena kalau aku melanjutkan berharap demikian, maka aku akan jatuh pada pengharapan kepada manusia, bukan kepada pencipta manusia. Na'udzubillah...
        Esok paginya dari malam tersebut, saat melewati kotak amal Masjid Beppu di lantai dua masjid, aku memilih memasukan seluruh sisa uang yang kupunya saat itu yang hanya berjumlah 23¥ saja. Sejumlah uang setara 2,300 rupiah yang kalau di Indonesia hanya bisa dipakai beli gorengan 3 biji jumlahnya. Di bagian ini, aku tidak sedang bercerita bahwa hidup anak rantau yang satu ini kasihan sekali. Aku tidak suka menceritakan soal kemalangan. Jika perlu jujur, keadaan tidak punya uang macam begitu sudah terlampau sering aku alami. Tapi sungguh, keadaan tersebut tidak membuatku harus luput dari bersyukur karena rezeki yang aku terima selalu lebih hebat Allah curahkan kepadaku setiap harinya dalam bentuk yang sering kali aku dibuat takjub bagaimana Ia merancangnya.
        Di bagian ini, aku sedang menunjukkan kelemahanku sebagai manusia yang tidak berdaya di hadapan pemiliknya. Sungguh, memiliki uang sedikit seperti itu membuatku merasa miskin. Aku merasa tidak lebih beruntung dari orang-orang yang sedang menggenggam banyak harta di tangannya. Aku tidak dapat mengontrol bagaimana hatiku harus berperasaan terhadap uang yang hanya 23¥ jumlahnya itu. Di titik itulah, aku merasa sangat duniawi sekali. Maka aku putuskan untuk melepaskan saja semuanya. Dan sungguh, begitu ajaibnya Allah mengaruniakan perasaan tenteram kepadaku justeru dalam keadaanku yang tidak punya uang sama sekali ketimbang saat masih punya uang barang 2,300 rupiah saja besarannya.
        Sore harinya, aku mendapat pesan lewat Line dari ukhti fillah-ku di Nagoya. Katanya, beliau sudah mentransferkan uang yang jumlahnya sama dengan bulan lalu. Yaitu bernominal setengah dari besarnya yachin bulananku untuk dibayarkan kepada Ibuk. Maha Besar Allah, aku seakan tidak dipersilakan untuk ragu kepada-Nya. Doaku didengar. Cinta-Nya sangat dekat. Selang beberapa jam dari momen pemasrahan di masjid, Allah langsung beraksi dengan selancaran peran-Nya pada cerita kali ini. "Allhamdulillah... Berarti tinggal mencari 7,500¥ sisanya," gumamku.
        Jika aku perlu membahas bagaimana aku mau-maunya menerima infaq bulanan dari ukhti fillah-ku di Nagoya, bagian ini kunamai sebagai hikmah berukhuwah dan bukan soal mendapatkan materi dari belas kasihan orang. Aku tidak pernah bercerita tentang keadaanku di Beppu kepada beliau. Saat beliau menawariku, dengan hati-hati dan sedikit takut-takut jika aku tersinggung beliau menyampaikan maksud dan tujuan beliau atas niatannya untuk berbagi kelebihan rezeki beasiswa yang ia terima. Sementara aku percaya bahwa niatan beliau itu tentu sudah Allah tuliskan di Lauhil Mahfudz.
        Dalam memaknai konsep rezeki, aku yakin bahwa setiap hal baik yang kita terima dan kenikmatan yang tidak membuat kita lupa kepada-Nya adalah rezeki yang Allah sediakan untuk kita dari mana pun ia datangnya atau bagaimana pun bentuk rezeki itu menghampiri kita. Saat aku ingat seorang senpai (senior) yang sangat suka daging kambing misalnya, lalu aku membungkuskan sekotak nasi biryani khas Pakistan berisikan potongan daging kambing yang disediakan Masjid Beppu dalam sebuah kegiatan ifthar bersama untuk diberikan ke senpai tsb, sebetulnya itulah cara Allah memberikan rezeki kepada senpai-ku itu. Ingatan tentang dia yang muncul di otakku adalah wasilah-Nya karena bukan aku yang sebetulnya memberinya makanan kesukaannya itu, tapi Allah-lah yang tahu persis bahwa ia seorang penyuka daging kambing dan hari itu Allah sedang ingin merezekikannya dengan sekotak nasi biryani berisian daging kambing yang lezat sekali.
        Sama dengan jalan cerita tersebut, aku yakin bahwa infaq ukhti fillah-ku di Nagoya untuk seorang ibnu sabil di Beppu seperti aku ini adalah proses Allah memberikan rezeki kepadaku. Memang sudah dari Lauhil Mahfudz uang 7,500¥ per bulan itu tertulis sebagai punyaku. Pun dengan bagaimana cara uang tersebut datang ke tanganku, adalah hak Allah pula yang merancang baiknya bagaimana. Karenanya, setiap ditawari kebaikan dan kenikmatan dari sesama makhluk-Nya, selama kupikir tidak berlebihan jumlahnya, aku akan selalu terima. Karena aku yakin bahwa kita manusia-Nya hanyalah wasilah. Kita semua hanyalah penyalur dari segala keputusan dan rencana pemilik kita; Allah Subhaanahu Wata'aalaa.
        Di sore hari itu, aku bersyukur bukan hanya karena Allah telah menghadirkan solusi dari masalahku secara nyata, tapi aku juga bersyukur karena Allah memberiku kesempatan untuk mengenal diri-Nya lebih dekat lagi. Karena sejatinya, segala yang kualami itu sebetulnya sebuah pembelajaran penting tentang kasih sayang-Nya jika saja kita mau menggunakan akal kita untuk berpikir dan hati kita untuk merasai makna akan pemahaman tentang-Nya.
        Setelah mendapat pesan via Line tersebut, aku tidak langsung berbicara kepada Ibuk bahwa aku telah dikirimi uang lewat rekening beliau. Aku ingin saat berbicara kepada Ibuk tentang kiriman itu, aku sudah mengantongi uang 7,500¥ sisanya supaya genap sudah 15,000¥ uang yachin bulan Juli dapat aku bayarkan kepada beliau. Aku putuskan besok saja untuk membicarakannya kepada Ibuk.
        Keesokan harinya, yaitu di hari ini, sampai siang tadi saja aku belum menerima sinyal tentang tanda-tanda akan kedatangan rezeki tambahan yang bisa aku gunakan untuk melunasi perkara yachin bulan Juli ini. Malahan, aku ditimpakan persoalan baru. Setelah kemarin pagi aku lepaskan seluruh sisa koin yang aku punya ke dalam kotak amal masjid, dompetku yang masih kosong melompong harus tersandung dengan janji untuk membantu tim dokumentasi Indonesian Week 2015 sebagai salah satu fotografer dalam event yang mengharuskan aku hadir dari jam 4 sore ini. Masalahnya, aku sedang tidak punya tiket bus untuk menuju ke kampus. Kalaupun harus beli, dari mana uangnya bisa aku dapatkan? Aku masih tidak tahu.
        Selepas shalat dzuhur, aku coba memasrahkan lagi persoalan ini. Aku kontak salah satu teman yang cukup dekat denganku barangkali ia bisa ditemui di sekitaran Beppu untuk aku pinjami satu lembar tiket menuju kampus di atas gunung sana yang jaraknya 40 menitan dari sentral kota Beppu. Sayangnya, ia yang memang sudah mengantongi one year bus pass card (teki) sejak semester lalu, sangat wajar bila menjawab pertanyaanku dengan jawaban, "Maaf, Nid. Aku nggak punya."
        Kebanyakannya, anak-anak di kampusku memang pakai teki yang harganya setara dengan sepuluh juta rupiah untuk paket satu tahunnya dan bisa digunakan all around Beppu dan juga ngelaju dari downtown menuju kampus. Sedangkan aku yang baru menetap lagi di Beppu dari tiga bulan lalu belum bisa mengumpulkan uang sebanyak itu untuk beli teki tahunan. Kalau dihitung secara matematis, sebetulnya total uang yang aku keluarkan karena memakai tiket reguler di hampir setiap harinya, bisa terhitung lebih boros ketimbang pakai teki. Tapi apa mau dikata, Allah belum merezekikan aku memiliki teki untuk sementara ini.
        Sementara itu, waktu sudah semakin berlalu dan aku sudah takut saja untuk tidak bisa naik ke kampus dan memenuhi janjiku kepada temanku itu. Aku akan malu sekali jika aku tidak jadi hadir. Sejujurnya bukan perasaan takut mengecewakan yang mendominasiku waktu itu. Tapi aku takut kehilangan kepercayaan dari manusia. Pasalnya, jika aku perlu berbicara jujur, teman-teman kampusku yang keadaan finansialnya sangat jauh lebih berpunya dari pada aku, mana bisa paham soal situasi dan kondisi seperti yang sedang aku alami sekarang. Bisa-bisa, alasanku tidak punya tiket naik ke atas karena tidak punya uang sama sekali selama beberapa hari ini, dapat terdengar tidak logis sekali di telinga mereka. Terlebih, jika besok-besoknya mereka mendapati aku di kampus sedang berkuliah seperti biasanya.
        Aku tidak sedang bilang bahwa mereka tidak pengertian. Tapi justeru aku sedang mewajarkan bahwa ketidakmengertian yang barangkali mereka pikirkan sebetulnya lumrah saja karena pada dasarnya kita semua punya kondisi dan latar belakang yang berbeda-beda. Dalam bagian ini pun, aku tidak sedang memiskinkan diriku sendiri. Tidak sama sekali. Aku hanya sedang bercerita sebagian kisah yang mungkin beberapa hari, bulan, tahun, dari sekarang ini, saat aku sudah memegang gaji hasil baito-ku, atau saat aku sudah menerima pencairan beasiswaku, atau keadaan yang mungkin jauh lebih baik lagi kelak, momen seperti ini bisa aku senyumi dan bisa aku ingat-ingat selalu hikmah di baliknya.
        Kembali lagi pada ceritaku soal yachin bulan Juli. Aku yang seolah terjepit dengan keadaan di sore hari pada tanggal 14 Juli 2015 ini lalu dipanggil oleh Ibuk dan kami pun terlibat dalam sebuah pembicaraan. Di ujung percakapan kami, walaupun aku belum berhasil mendapat uang 7,500¥ yang lain untuk dibayarkan sebagai yachin, aku akhirnya memberanikan diri memberitahu Ibuk bahwa orang dengan nama yang sama yang bulan lalu mengirimiku uang lewat rekening Ibuk, telah mengirimkan lagi kemarin sebesar 7,500¥. Lalu aku berujar pada Ibuk bahwa uang tersebut dipakai untuk bayar yachin bulan ini saja, dan tidak lupa aku pun meminta maaf karena belum bisa membayar kekurangannya.
        Tidak terduga sama sekali bahwa respon yang Ibuk lontarkan dapat terdengar sangat mengharukan buatku, "Ni, bayaran yachin bulan ini gak usah deh..." Bagiku, perkataannya ini adalah jalan keluar untuk dua masalah sekaligus karena selain tidak terbebani lagi dengan yachin bulan ini, aku pun dibolehkan untuk mengambil uang yang ditransferkan ukhti fillah-ku itu pakai uang yang Ibuk punya di dompetnya terlebih dahulu. Tentunya, setelah menerima uang tersebut, aku pun jadi bisa pergi naik bus menuju kampus dan memenuhi janjiku kepada temanku itu dan menjalankan tugas sebagai fotografer di salah satu acara Indonesian Week 2015.
        Maka dari itu, atas segala kemurahan-Nya yang tampak begitu nyata itulah, aku berkeinginan menulis cerita hikmah tersebut dalam tulisanku kali ini. Jujur, tentu saja ada segelintir perasaan takut dibilang riya karena mengumbar beberapa amalan yang telah dilakukan. Tapi semoga saja ketulusannya lebih terasa dan hikmahnya bisa diambil sebagai pelajaran yang berharga. Dan tentu juga sebagai ucapan terima kasih yang sangat kecil sekali nilainya untuk Ibuk, orang yang paling aku segani dan aku hormati seantero Beppu-shi.
        Kepada hati yang masih ragu kepada dzat Yang Tidak Pantas Diragukan, cobalah merenungi kembali seperti apa pendekatan kita kepada-Nya. Karena solusi apa lagi yang perlu kita pertanyakan kepada Tuhan jika kunci dari setiap masalah hanya sedekat jarak dahi kita ke sejadah. Hanya dengan shalat dan sabar kita bisa terbebas dari segala ujian yang Allah limpahkan kepada kita. Belum lagi ada tambahan bonus berupa ketenteraman hati yang Allah karuniakan ketika kita berhasil melalui sebuah masalah dan semakin yakinlah kita kepada-Nya. Biar Allah-lah yang mencarikan jalan keluar untuk kita, karena apa yang kita tahu sangat terbatas jika dibanding dengan apa yang Allah tahu. "Da kita mah apa atuh kalo dibandingin sama Yang Maha Punya? Udah mah ilmu kita teh terbatas, itu pun bukan kita yang punya lagi. Tapi Allah yang punya," begitu kata Aa Gym pada sebuah ceramah agama.
        Dulu, ketika aku masih 'batu', aku sering dibuat kepayahan sendiri oleh formulaku mengatasi masalah. Aku selalu saja berkutat untuk menemukan sebuah jalan keluar sebagai solusinya. Padahal, masalah itu kan Allah yang beri. Kenapa kita keukeuh sekali berharap kepada selain Allah dalam pencarian solusinya? Maka, belajarlah dari orang bodoh ini. Jangan sampai kita terlalu sombong dan percaya diri dengan kemampuan yang kita miliki seolah-olah logisnya pikiran kitalah kunci utama untuk mencari solusi. Sudahilah berlogis-logis dalam hal ketauhidan kepada Allah, kecuali dalam memberi pemahaman tentang Allah kepada orang-orang yang kalbunya belum terhidayahkan dengan cahaya Islam seperti teman-teman non muslim-ku disini yang pada penasaran tentang agama Islam.
        Semoga Alah selalu ridho kepada kita. Semoga Allah bersedia untuk semakin menambahkan keimanan kita di setiap harinya. Aamiin.

        Beppu, 15 July 2015

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *

recent posts

Subscribe