Hijab

4:43 PM


Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ [Qs. al-Ahzab : 59].

‘Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, ….’ [Qs. an-Nûr : 31].

*** 
           Dengan firman yang termaktubkan Tuhan dalam Alqur’an, wanita dimuliakan. Disuruh-Nya perhiasan mereka disembunyikan hingga rapat. Ditinggikan derajat mereka lewat perkara syari’at soal tutup-menutup aurat. Dan dengan titisan sifat keindahan dari milik-Nya, wanita kemudian diberikan pula sebuah intuisi dan naluri tentang bagaimana memperindah dirinya tanpa harus tidak mengindahkan kewajibannya sebagai perempuan.
Jadilah dewasa kini, masa dimana berjilbab bukan lagi sebuah prinsip kerohanian semata melainkan tuntutan gaya hidup masyarakat kota hingga desa, intuisi pemberian Tuhan itu pun mengalami semacam metamorfosa. Manusia sudah semakin kreatif melahirkan keindahan-keindahan yang nyaman dipandang mata, lagi meninggikan derajat si empunya selera. Ketika dunia memasuki era milenia (tahun 2000-an), jihad tentang hak asasi kaum muslimah untuk memakai kerudung dimana saja mereka berada terlebih di dunia kerja, justeru tergantikan oleh maraknya wanita yang biasa memamerkan mahkotanya berbondong-bondong menutup kepala dengan lembaran kain berwarna. Terlebih, ditunjang dengan semakin bermacamnya model-model kerudung di pasaran.
Diawali dengan kemunculan sebuah brand kerudung instant asal kota kembang; Rabbani, serta didukung atas perannya sebagai sponsor wardrobe tokoh utama wanita dalam serial keluarga di bulan puasa kala itu, masyarakat Indonesia seakan terhipnotis sebuah stigma baru tentang cara berkerudung yang tidak harus seperti emak-emak. Entah masyarakat yang lupa bahwa si tokoh utama adalah Alyssa Soebandono yang memang berparas ayu, atau model-model kerudung dari brand tersebut memang sedap di pandang mata. Yang jelas, semenjak kemunculannya ke ranah hiburan, Rabbani kian digemari kaum hawa di negeri ini. Para wanita yang memang sudah memiliki niat tersendiri untuk menutup auratnya dari lama, semakin mantap saja mengukuhkan diri. 
kerudung yang dikenakan Alyssa adalah kerudung dari brand Rabbani
Terlebih lagi, selain karena menariknya model-model kerudung yang dikeluarkan brand tersebut, harga bandrolannya yang bisa dijangkau oleh kaum menengah itu pulalah yang menjadi alasan lain mengapa banyak wanita tidak ragu untuk berhijrah. Padahal sebelumnya, atas nama gengsi terhadap kesan tua yang ditampakkan model jilbab tempo lawas, niat mereka tersendat kendala. Fenomena yang pertama ini, saya sebut sebagai wadah memuslimahkan wanita muslim Indonesia.
Sejalan dengan berkembang pesatnya perkembangan jilbab di pasaran, tren kalangan menengah ini pun merambah ke kalangan sosialita. Dengan cara mereka sendiri, jilbab bisa berubah menjadi ihwal yang punya eksklusivitas tinggi. Seakan mencirikan kekhasan jilbab kaum jetset, model jilbab instant mulai ditinggalkan. Mereka menggantikan tren jilbab instant dengan model kerudung persegi panjang yang terinspirasi dari kerudung pashmina Timur Tengah, dan menamai gerakan jilbab mereka dengan sebutan “Hijab”. Dengan piawainya, kaum sosialita yang lekat dengan dunia fashion berselera tinggi, mentransformasikan hijab ke dalam seni menutup aurat yang lebih indah lagi. Era baru dimulai. Fenomena yang kedua ini, saya sebut sebagai fashionisasi jilbab.
Dian Pelangi, Ina Rovi, Ghaida Tsurayya, dan Ria Miranda


Adalah Dian Pelangi, Ina Rovi, Ghaida Tsurayya, dan Ria Miranda. Empat dari sekian banyak desainer pakaian muslimah yang karya-karyanya menghiasi panggung runway Indonesia di kancah busana islami, khususnya busana muslimah. Ditambah lagi, muasal mereka yang sama-sama dari strata sosialita, menambah kesan eksklusif untuk pakaian-pakaian hasil rancangannya. Di kemudian hari, kelompok muslimah dari strata tersebut mengikatkan diri dalam wadah yang lebih terstruktur. Komunitas tersebut memiliki keanggotaan dan visi-misi yang tersurat. Tahun 2010, lahirlah sebuah komunitas yang mereka namai “Hijabers Community”. Sebuah kelompok dengan “Gerakan Tutup Aurat” yang lebih memikat. Ada semacam magnet tersendiri yang datang dari seni memakai hijab hasil kreasi kaum strata atas berselera fashion tinggi tersebut. Sebagai goal-nya, hijab kemudian menjadi model terusan dari jilbab yang semakin digemari perempuan serayaan negeri. Dan, semakin banyak saja yang memutuskan untuk berhijab. Menutup aurat seperti yang diperintahkan Tuhan semenjak berabad-abad lalu.
Hijabers Community
Hijabers Community = Komunitas Fashionista Islami (?)
Aksesoris-aksesoris pelengkap hijab bermunculan. Para muslimah negeri ini semakin terpoleskan dan makin cantik saja. Dari kaum selebritis, artis, model, hingga koruptor negeri pun terpikat pesona hijab. Mereka mengidentitaskan dirinya sebagai muslimah yang modis. Muslimah yang tidak kaku. Muslimah yang bebas berekspresi. Muslimah yang bisa menjawab tantangan zaman. Puncaknya, tahun 2012 adalah masa keemasan dunia hijab Indonesia. Kreativitas yang terpancar dari rancangan busana desainer muslimah Indonesia semakin terkenal ke mancanegara. Pada tahun itulah visi untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia mulai digaung-gaungkan.
Fenomena ini kemudian memunculkan pro dan kontra. Sebagai “jama’ah” hijab, sebagian wanita Indonesia merasa kehadiran hijab adalah jalan terbukanya ilham Tuhan untuk menyempurnakan syari’at menutup aurat. Mereka yang merasa tercerahkan, mengklaim hijab sebagai panggilan hati dari Tuhan Maha Abadi. Tidak dipungkiri pula, sebagian dari “jama’ah” tersebut menjadikan hijab sebagai tren yang perkembangannya sayang untuk tidak diikuti. Miris memang menyadari perihal rohani sepenting tutup-menutup aurat, hanya dimaknai sebagai perkembangan mode saja.
Dari sisi lain, para pengamat agama mulai bersuara. Kehadiran hijab sebagai jilbab cantik dinilai sudah tidak mencerminkan kesyari’atan yang hakiki. Model-model hijab yang terlewat modis, mengalihfungsikan jilbab yang bertujuan untuk menutup perhiasan, malah dijadikan perhiasan baru oleh kaum hawa. Mereka menilai, penggerak hijab sudah tidak memerhatikan lagi ketentuan menutup aurat. Di antara ketentuan tersebut adalah; tidak terawang, menutup dada, tidak ketat, dan tidak mencolok. Karena hakikatnya, hijab adalah sebuah syari’at untuk meninggikan derajat wanita di mata Tuhan bukan di mata manusia. Terlebih, dengan ketambahan gaya ber-make up yang berlebihan dan perilaku yang hedonis (cinta dunia), semakin menempatkan hijab hari ini, sebagai gaya hidup yang jauh dari sarat islami. Sampai pada tahap terakhir itulah, hijab di hari ini dianggap tidak mencerminkan lagi pesan kemuslimahan yang dimaktubkan Tuhan dalam suci Alqur’an, melainkan gaya hidup semata.
Menjawab permasalahan tersebut, salah satu tokoh muda di bidang agama yang biasa disapa Felix Siauw, menggerakkan sebuah movement baru bernama "Yuk, berhijab!". Gerakan tersebut mengusung sebuah ajakan untuk menggunakan hijab secara lebih syar'i. Dibantu dengan media internet yang serba luas dan cepat, gerakan tersebut mulai mendapat apresiasi dan dukungan berbagai pihak. Terlebih lagi, bersama sang isteri, sang ustdaz muda juga menggarap sebuah line kerudung yang fokus berproduksi di bidang hijab syar'i, "Hijab Alila" namanya.


Sebagai seorang muslimah, saya terpanggil untuk menyikapi dua sisi yang bertabrakan tadi. Para penggerak hijab yang berhasil memperkenalkan syari’at menutup aurat ke khalayak awam, jelas tidak bisa begitu saja kita diskreditkan perannya. Walau bagaimanapun, keberhasilan mereka memasyaratkan sebuah hukum Tuhan hingga banyak wanita muslim tersadarkan akan kewajibannya sebagai hamba perempuan di mata Ilah-nya, adalah pencapaian luar bisa. Bayangkan saja, sudah berapa ribu, ratus ribu, bahkan mungkin jutaan wanita negeri ini yang terinspirasi dan memutuskan berhijrah ke jalan yang lebih positif.
Saya menganalogikan proses tersebut seperti cara para Wali Songo menyiarkan Islam ke ranah Nusantara. Lewat ritual agama hindu yang pribumi punya, para sunan menyelipkan nilai keislaman di dalam proses ritual budaya setempat. Lewat seni pewayangan, seni musik dan tetabuhan, seni arsitektur dan bangunan, bahkan seni lukisan dan tulis-tulisan.
Salah satu contoh yang masih mengakar hingga kini adalah adanya tetabuhan sebelum adzan pertanda shalat dikumandangkan. Dalam kisah Sunan Bonang menyebarkan agama Islam, beliau menggunakan sarana musik tradisonal sebagai perantara dakwah. Beliau menyempurnakan instrumen gamelan, terutama bonang, kenong, dan kempul. Pada mulanya, masyarakat setempat yang berpaham hindu menjadikan bunyi-bunyi tetabuhan sebagai pertanda upacara keagamaan akan segera dimulai. Tetabuhan itu dimaksudkan agar seluruh rahayat desa berkumpul dan bersiap diri menuju Tuhan yang mereka yakini. Jadilah ketika Sang Sunan mengenalkan Islam, kebiasaan memanggil jama'ah untuk beribadah bersama di langgar dengan kumandang adzan, dibaurkan dengan kebiasaan membunyikan tabuhan yang sekarang lazim dikenal dengan "bedug" atau "beduk".

Sunan Bonang (1465-1525)
Semakin kesini, sudah banyak umat Islam yang mengkaji agama lebih dalam. Diketahui kemudian, bahwa praktek yang tidak bersumber langsung dari ajaran Rasulullah SAW dan Tuhan-Nya, adalah sebuah bid'ah atau praktek melebih-lebihkan. Padahal sudah jelas, di Makkah kota suci saja, tidak ada ritual bedukan. Banyak masjid di negeri kita yang meninggalkan tradisi bedukan tersebut. Namun, lebih banyak yang mempertahankannya karena selain dinilai sebagai seni, bedukan memiliki fungsi tersendiri sebagai penegasan terhadap kumandang adzan pertanda waktu shalat datang. Dalam hal jumhur, mempertahakan praktek bid'ah yang baik ini dinamai Bid'ah Hasanah. Secara lebih jauh lagi, bagaimanapun, ritual tetabuhan dianggap sebagai salah satu sarana dakwah islamiyah di zaman para wali yang peran syi'arnya tidak bisa kita diskreditkan.
Berangkat dari analogi tersebut, saya menyamakan peran "hijab cantik" sebagai syi'ar akan perintah Tuhan tentang kewajiban wanita muslim menutup aurat, sama halnya dengan peran ritual tabuh-tabuhan yang diinternalisasi oleh adzan sebagai perintah Tuhan kepada ibadah shalat. Keduanya, adalah trik agar Islam bisa lebih dekat kepada para awam. Sebuah peran "pengajak" yang dianggap membumi.
Sama dengan penyadaran umat Islam terhadap praktek bid'ah yang ada pada ritual tabuh-tabuhan, para pengamat agama akhir-akhir ini pun mulai menyuarakan kontradiksinya terhadap hijab cantik yang dianggap terlewat modis dan lupa akan fungsi utamanya sebagai syari'at. Namun, berbeda halnya dengan bedukan, sifat berlebih-lebihan dalam mengenakan hijab jelas bukan perkara yang dianggap baik. Bedukan tidak menghilangkan esensi adzan sebagai penanda waktu shalat datang. Sementara hijab cantik yang kebanyakan modelnya itu terawang, mencolok, tidak menutup dada, dan ketat, adalah serangkaian aksi menghapuskan makna dan nilai hijab sebagai penutup aurat.
Sebagai muslimah yang mencintai seni, saya mencoba mengambil sebuah jalan tengah. Tidak bisa saya pungkiri, kehadiran hijab cantik adalah solusi bagi muslimah yang ingin tampil modis dan percaya diri. Namun, atas dasar pertanggungjawaban saya terhadap ilmu agama yang sudah saya pahami, saya mencoba menyederhanakan ketentuan tutup-menutup aurat agar lebih bisa saya mengerti. Dalam kondisi yang masih seperti sekarang ini, sebagai remaja, mungkin masih terasa berat bagi saya membiasakan diri menggunakan gamis sebagai pakaian sehari-hari dan kerudung selebar mukena ke manapun saya pergi. Akhirnya, saya memutuskan agar lebih membatasi diri ketimbang memperjauh langkah kaki. Maksud saya, jika saya belum bisa berpakaian serba lebar dan masih ingin berekspresi layak anak muda lainnya, maka, aturan fundamental lah yang saya gunakan sebagai acuan: tidak terawang, tidak ketat, tidak mencolok, dan menutupi dada.
Pada akhirnya, manusia memang selalu berhak menengahi dua urusan yang bersebrangan setelah kebebasan memilih di antara keduanya mereka dapatkan. Selama pakaian penutup aurat kita tidak ketat, tidak mencolok, tidak berlebihan, tidak terawang, dan jilbab kita menutupi dada sesuai dengan yang disyari'atkan, maka pakailah. Pun halnya kebebasan berekspresi dalam rangka memperindah diri di hadapan sejawat-sejawati. Yang terpenting menurut saya adalah, bagaimana sikap kita menjauhi perkara yang berlebih-lebihan apalagi jika kondisi yang kita miliki tidak cukup mumpuni. Jelaslah ada alasan mengapa para sosialita memilih pakaian serba mewah untuk koleksi lemari bajunya. Karena pada dasarnya, mereka mampu membelinya. Namun sekali lagi, pembatasan secara agamawi mempertegas kembali fungsi hijab sebagai penutup perhiasan diri, bukan sebagai perhiasan baru yang menjadikan hijab kehilangan jati dirinya yang hakiki.
Semoga, tulisan saya ini bisa bermanfaat bagi Anda yang membacanya, dan khususnya memberikan inspirasi kepada wanita muslimah lainnya :)

Salam, Ndanazihah
Radio Dalam, Jakarta Pusat,
15 Juli 2013 | 14.52 WIB 

image sources and refferences:
http://helloskyblu.blogspot.com/2010/01/sinetron-aisyah-di-rcti-pkl-330-wib.html
http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/04/biografi-sunan-bonang.html
http://satriopinandito.wordpress.com/2009/01/07/memahami-metode-dakwah-walisongo/
http://benefiko.tumblr.com/
http://hijaberscommunity.blogspot.com/2012_09_01_archive.html

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *

recent posts

Subscribe