Ramadhan Pertama di Negeri Orang

6:38 PM

Adalah sebuah karunia yang begitu tak hingga bagi saya, bisa menjalani bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri tahun ini di sebuah negeri yang orang biasa mengenalnya dengan sakura, ocha, sumo, dan sushi. Oh ya! Tidak lupa juga bahwa tempat yang saya tinggali sekarang ini terkenal pula dengan teknologinya yang canggih. Ialah Jepang, sebuah nama negara dimana Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) megah berdiri di atas salah satu gunung di kota kecil Beppu: tempat saya menggali bekal ilmu sebelum kelak menghibahkan diri untuk umat di kehidupan sosial nanti. Insyaaa Allah.
Dari sekian banyak nikmat-Nya yang tak terhitung, keberadaan satu-satunya masjid di Beppu yang sejak berdirinya empat tahunan lalu dinamai Central Kyushu Mosque ini, adalah anugerah terbesar yang saya dapatkan. Terlebih, dalam suasana Ramadhan seperti sekarang. Masjid ini menopang empat lantai. Lantai dua difungsikan untuk tempat salat laki-laki dan lantai tiga untuk para perempuan. Sementara, lantai terbawah dipakai untuk lahan parkir sehingga hanya sedikit menyisakan space yang bisa diinjak bertelanjang alas kaki alias hanya petak ber-tegel untuk pintu masuk saja yang disambut dengan tangga menuju lantai dua. Di Ramadhan tahun ini, atas rahmat-Nya, terjadi perbedaan besar untuk penggunaan lantai empat. Komite masjid menginisiasi ruang lapang yang tadinya benar-benar tidak terpakai tersebut menjadi tempat yang semarak selama tiga puluh hari lamanya di Ramadhan tahun ini. Tersiarlah kemudian ke seantero kota Beppu bahwa Central Kyushu Mosque mengadakan ifthar bersama yang diperuntukkan bagi siapa saja, baik muslim dan non-muslim sekalipun. Katanya, untuk dijadikan ajang syiar secara multilateral.

Dokumen Ramadhan 2014 diambil dari laman facebook "Muslim in Beppu"
Dokumen Ramadhan 2014 diambil dari laman Facebook "Muslim in Beppu"

Dokumen Ramadhan 2014 diambil dari laman facebook "Muslim in Beppu"
         Ada semacam kehangatan yang menguap di lantai tiga. Sepertinya, kehangatan tersebut berasal dari ukhuwah antara seluruh jamaah laki-laki yang berlangsung disana dan mungkin juga dari hangatnya nasi biryani yang biasa tersaji tiga puluhan menit sebelum adzan maghrib digaungkan. Iya, gaung bukan gema. Karena gema tempatnya di hutan sana, sementara gaung adalah peristiwa pantulan bunyi di gedung bertembok-tembok. Mungkin, di durasi beberapa menit sebelum adzan itu juga, sebetulnya tembok-tembok tersebut menggaungkan pula obrolan para tamu masjid yang datang di setiap sorenya. Obrolan soal transfer ilmu, budaya, etika, dan norma dari negara asal mereka. Pun soal apa yang sudah seharian dilalui di kampus masing-masing atau di tempat kerja masing-masing. Dan yang paling penting, obrolan tentang Allah sebagai tuhannya orang Islam, tentang agama samawi-Nya yang haq, tentang Ramadhan yang diajarkan oleh utusan-Nya, serta tentang bagaimana menjadi seorang abdi yang berjalan di bumi-Nya tanpa peduli berapa ribu kilometer jauhnya bagian bumi yang tengah dipijaki ini dengan kampung halaman disana.
Sesekali terasa lucu, bagaimana bisa orang-orang dari berbagai macam belahan dunia berkumpul di satu tempat yang sama, lidah mereka merasai asin-manis yang sama dari menu ifthar yang tersaji, berbicara menggunakan dwibahasa (Inggris dan Jepang), dan khususnya bagi yang muslim; berdiri di garisan shaf yang sama untuk menyembah Allah dalam salat. Saya kira, hanya Makkatul Mukarromah yang punya fenomena macam begini. Tapi ternyata Masjid Beppu juga punya fenomena yang sama. Sebagai mahasiswi tahun pertama yang menimba ilmu di negeri orang, pemandangan semacam ini tentu menjadi hal baru yang sangat menarik buat saya. Pikir saya, ada nilai berharga tersendiri untuk diceritakan ke 'orang rumah' atau keluarga saya di Indonesia. Ada semacam perasaan khidmat yang berbeda dalam menjalani ibadah shaum di Ramadhan tahun ini dibanding sanak famili di Indonesia.
Kehangatan yang mengelebat di lantai atas masjid juga terjadi di antara jamaah perempuan. Kami tidak dialihkan ke tempat khusus untuk dibedakan tempat makan dan tempat salatnya. Ruang yang menggaungkan obrolan semacam tadi, masih ruang lantai tiga. Bagi saya pribadi, ada perasaan senang tersendiri ketika melihat perempuan muslim ditanyai soal Islam oleh tamu perempuan non-muslim yang datang. Atau ketika saya diminta mengajari seorang teman Jepang yang terhitung baru masuk Islam soal bagaimana melafalkan surat Al-Kautsar dan An-Nashr, sementara ia menuliskannya di kertas dengan karakter katakana. Di kemudian hari, entah di maghrib yang keberapa dari hari tersebut, saya mengetes hafalannya untuk dua surat tersebut. Maasyaaa Allah, saya merinding mendengarnya. Ada semacam perasaan kagum luar biasa. Mendengar seorang muallaf Jepang yang sudah mantap berhijab melantunkan hafalan Al-qur’annya dekat sekali dengan telinga saya.





Di titik inilah, saya disadarkan bahwa ada nilai kebergunaan yang beruntung saya raih di Ramadhan tahun ini. Saya jadi membayangkan, kalau saya tidak berada disini, manfaat macam apa yang bisa saya tularkan kepada yang lain? Sementara ilmu yang saya punya masih seujung kuku jari. Di tempat dimana Islam adalah minoritas, ilmu dasar soal agama-Nya seperti rukun iman dan rukun Islam misalnya, bisa jadi ladang dakwah yang esensial sekali. Atau soal jawaban kenapa tidak mengonsumsi alkohol dan daging babi. Atau soal kenapa wanita muslim harus mengenakan selembar kain di kepala padahal musim panas di Jepang bisa sangat panas sekali. Dengan berada disini, saya seperti disadarkan bahwa sebetulnya Allah sedang memberi saya tempat untuk mengeksplorasi sisi manfaat diri saya yang bisa jadi tidak seberapa tapi bisa begitu berarti karena ditempatkannya saya di bagian lain bumi-Nya.

Beppu, 5 August 2014

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *

recent posts

Subscribe